“Orang yang tidak suka membaca tidak tahu bagaimana memaknai hidup lewat sebuah buku.”
“Aku jadi teringat pada sobatku Dabir, penulis karbitan itu. Ia menulis karena ia ingin menulis tanpa pretensi apa apa. Ia juga tak terlalu peduli apakah tulisannya baik atau buruk. Apakah tulisannya itu bakal dibaca orang atau tidak. Ia juga sepertinya tidak peduli, apakah yang ia tulis itu sudah mengikuti kaidah penulisan yang baik dan benar. Dan justru itulah yang membuatku sakit hati, bagaimana karya serupa karya Dabir itu bisa terbit dan bahkan laku keras? Kalau saja Dabir memang seorang penulis jempolan dengan tingkat kreativitas yang tinggi, didukung oleh ide ide yang baru, fresh dan orisinal mungkin bisa aku maklumi, tapi masalahnya tidak demikian. Mau tak mau, fenomena Dabir ini memaksaku untuk mencurigai proses kreatifku sendiri. Jangan jangan justru penilaiankulah yang terlalu dangkal, atau karena aku tidak mampu membaca selera pasar?”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: menulis, proses-kreatif
“Menjadi penulis, aku kira berangkat dari sebuah kesadaran, bahwa ada sesuatu hal yang berharga yang ingin kita sampaikan kepada orang lain. Sesuatu yang bisa menggugah hati dan pikiran orang lain. Sesuatu yang kita yakini akan menghadirkan manfaat saat kita membagikannya dengan orang lain. Sebuah persembahan bagi dunia. Terlepas dari kenyataan, apakah dunia bersedia menerimanya atau tidak.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: menjadi-penulis
“In the eyes of people, I might not be loyal to one guy. Because my loyalty is not to men, but to my own principles. And that's what keeps me going. Not just surviving as a human. I guess that's what makes me so loved. In fact, not by just one man.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“I'm not the kind of person who talks a lot. But I prefer people who are willing to act rather than talk. Often it doesn't take words just to say something. But I also like smart people. It's easy for me to be attracted to people who are willing to think. Because in addition to showing physical action, our life should be filled with a series of thought processes. People who want to use their brains are always more attractive to me. To me, smart is synonymous with the word "sexy." They can be very attractive both physically and intellectually. That's why I hate stupid people. But I really hate a man who thinks he is handsome but he has no brains. It seems like people with this type are simply wasting God's grace.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: smart-people
“Aku merasa beruntung karena aku lahir dan tumbuh dalam situasi di mana aku tidak selalu dapat memiliki apa yang aku inginkan. Aku memang tidak punya fasilitas yang istimewa tetapi aku memiliki orang tua yang luar biasa yang siap mendukungku kapan saja. Aku merasa beruntung karena aku memiliki masa kanak kanak yang penuh warna dan penuh kegembiraan meski tidak diliputi kemewahan. Aku merasa beruntung karena aku dipaksa belajar giat untuk mencapai semua cita cita dan harapanku. Aku sungguh beruntung karena diajar oleh guru guru yang hebat dan penuh pengabdian.
Aku sangat beruntung karena aku harus jatuh berkali kali sebelum aku sanggup berdiri. Aku sungguh beruntung karena aku pernah mengalami masa masa di mana orang tidak mengenal komputer, tehnologi modern, gadget, media sosial dan juga internet tapi aku tetap baik baik saja. Aku betul betul beruntung karena aku telah mengalami berbagai kesulitan di dalam hidup namun aku tidak pernah menyerah.
Aku memang beruntung meskipun aku pernah gagal total dalam banyak hal namun aku tidak dibiarkan sendirian menjalaninya.
Aku memang beruntung karena dikaruniai banyak teman dan dari mereka aku belajar banyak tentang arti persahabatan. Aku sangat beruntung karena aku punya kawan sejati yang siap menghibur hatiku dikala aku sendiri dan kesepian. Aku sungguh beruntung karena aku tidak menyia nyiakan waktu dan membiarkan hidupku berjalan tanpa tujuan. Aku luar biasa beruntung karena aku memiliki keluarga yang saling perduli, yang penuh dengan cinta, perhatian dan kasih sayang. Aku sangat beruntung karena aku punya waktu untuk mensyukuri semua nikmat yang sudah Tuhan berikan kepada diriku hingga detik ini.”
― Titon Rahmawan
Aku sangat beruntung karena aku harus jatuh berkali kali sebelum aku sanggup berdiri. Aku sungguh beruntung karena aku pernah mengalami masa masa di mana orang tidak mengenal komputer, tehnologi modern, gadget, media sosial dan juga internet tapi aku tetap baik baik saja. Aku betul betul beruntung karena aku telah mengalami berbagai kesulitan di dalam hidup namun aku tidak pernah menyerah.
Aku memang beruntung meskipun aku pernah gagal total dalam banyak hal namun aku tidak dibiarkan sendirian menjalaninya.
Aku memang beruntung karena dikaruniai banyak teman dan dari mereka aku belajar banyak tentang arti persahabatan. Aku sangat beruntung karena aku punya kawan sejati yang siap menghibur hatiku dikala aku sendiri dan kesepian. Aku sungguh beruntung karena aku tidak menyia nyiakan waktu dan membiarkan hidupku berjalan tanpa tujuan. Aku luar biasa beruntung karena aku memiliki keluarga yang saling perduli, yang penuh dengan cinta, perhatian dan kasih sayang. Aku sangat beruntung karena aku punya waktu untuk mensyukuri semua nikmat yang sudah Tuhan berikan kepada diriku hingga detik ini.”
― Titon Rahmawan
“The only way is not humans to come to find the truth. Because if so, then they will get lost. How can humans find what they don't know? Therefore, humans are only possible to let the truth come knocking on the door so that they get enlightenment. They become blessed. Not by his own will, but because of the desire of the truth itself.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: blessed-of-truth
“We cannot approach the truth without being crushed. Our brains are too small to determine the answer to the true nature of truth. Who are you that you dare to touch the flames of light of true truth? If you dare to touch it, then you will be scorched to ashes”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Sometimes she doesn't write alone. Like a person in a trance and the spirit which she calls the entity possesses her. They are the ones who then write it letter by letter until it becomes a word. And weave it word by word to form a sentence and then connect paragraph by paragraph to form a complete story.”
― Titon Rahmawan, Tembang Bukit Kapur
― Titon Rahmawan, Tembang Bukit Kapur
tags: automatic-writing
“Anger, jealousy, unbelief, discontent, fear and envy, are within your reach of thoughts and feelings. All of that is under your control and not the will of others. That is why people always want to be understood, tolerated by others but it is difficult to do the opposite”
― Titon Rahmawan, Turquoise
― Titon Rahmawan, Turquoise
tags: take-control
“We will not find happiness in the things we think are ideal and which we think are perfect. Because there is not a single perfection in human life. There are only imperfections. Those who can feel happiness, are those who find beauty in their own imperfections and in others. Happy people are people who are grateful for all their shortcomings.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Everyone needs attention, but we can not expect people to do it by command or by request. Attention is a pure manifestation of sensitivity, concern, empathy and also compassion.”
― Titon Rahmawan, Turquoise
― Titon Rahmawan, Turquoise
“Feeling is not just about what we want to express or how we express it but also about how we should control ourselves.”
― Titon Rahmawan, Turquoise
― Titon Rahmawan, Turquoise
“We often do not believe in what we feel and therefore we ask for evidence from others that what we feel is right. We never even truly believe that true love exists and their eyes never turn away from our face.”
― Titon Rahmawan, Turquoise
― Titon Rahmawan, Turquoise
“In life, I believe there are no coincidences. Everything happens for one reason or more. Everyone headed for their respective destiny. On what they choose. On what they do. Often not what they want. That's motive what moves us to discover the essence of life. To find the trully truth. The truth that moves life.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“The heaviest burden of our human side is not sin. Because heaven or hell is a choice that we create ourselves. The heaviest burden of our humanity is the ego. how can we defeat and subdue the personal ego. Sin is just a condition and consequence of the wrong life choices. It is impossible for us to separate that consequences from the interests of our personal egos.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Most people lie. Including when they think that nudity is something that is inappropriate and disgusting. Nudity in any condition always attracts attention, challenges and provokes curiosity. The problem is whether people want to admit that or not.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Humans will no longer see what appears, aging and wrinkled skin. In the end we will only see with the heart, all go towards to the eternity”
― Titon Rahmawan, Turquoise
― Titon Rahmawan, Turquoise
tags: eternity-quotes
“For me, life should be a processes of thought, not merely about big ideas or great ideas, but also about a small and simple things.”
― Titon Rahmawan, Turquoise
― Titon Rahmawan, Turquoise
tags: life-and-ideas
“Enjoying life does not have to do extraordinary things by spending a lot of money. Spending a quality time together with our loved ones is the best way to enjoy life.”
― Titon Rahmawan, Turquoise
― Titon Rahmawan, Turquoise
tags: enjoying-life
“We cannot refuse destiny. We also can't avoid it. There is no place for us to hide. Anyway that you choose, he will find you.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Baiklah anakku, marilah coba kita berpikir. Bagaimana mungkin kamu menolak dan menyangkal dirimu sendiri? Rasa lapar itu, hasrat dan keinginan itu. Bagaimana kamu hendak menafikannya, atau berpura pura menganggapnya tak ada? Bagaimana kamu bisa menolak kesenangan dan kepuasan serta menganggapnya sebagai bagian yang terpisah dari nilai nilai kemanusiaan itu sendiri?
Tak bisa kita pungkiri, bahwa bersenang senang adalah kodrat naluriah manusia. Di mana segala sesuatu yang hadir di dunia ini diciptakan dengan sebuah tujuan. Sebab, bila kesenangan itu hadir bukan sebagai buah dari kebaikan Hati Tuhan, lalu bagaimana kita tahu, bahwa penderitaan seorang petarak, kesengsaraan para pelaku asketis, perjuangan mengatasi rasa lapar bagi orang orang yang berpuasa adalah juga buah dari kebaikan hati Tuhan?
Bagaimana para praktisi asketisme dalam berbagai keyakinan ini bisa dengan sengaja menampik kenikmatan duniawi? Membiarkan hidupnya dikuasai penderitaan lahiriah dengan menjalani gaya hidup berpantang, berpuasa tanpa kenal waktu, bahkan ada yang menyiksa dirinya sendiri demi mengejar penebusan dosa, keselamatan akhirat dan sekaligus pencapaian rohani.
Kalaupun para pelaku asketisme ini meyakini, bahwa tindakan mereka itu didasari oleh sebuah pandangan; penderitaan adalah wujud perjalanan menuju transformasi rohani. Di mana rasa lapar itulah kenyang yang sesungguhnya, kesederhanaan adalah tanda berkecukupan, kebahagiaan sejati ada dan tinggal di dalam diri, dan berkekurangan adalah bentuk nyata dari berkelimpahan yang sebenarnya. Lalu, bagaimana kesenangan dan kenikmatan bisa dijadikan batu uji untuk menilai keimanan seseorang?
Apakah kesenangan surgawi harus dibayar dengan penderitaan atas dunia? Dan sebaliknya, apakah kesenangan dunia akan menjadi antitesis bagi kesenangan surgawi? Bila kesenangan surgawi itu setara dengan lautan susu dan madu, serta kehadiran para bidadari nan cantik sebagai sumber kesenangan dan kebahagiaan kita. Lalu apa bedanya kesenangan duniawi dan kesenangan surgawi? Bukankah surga itu tempat yang konon penuh dengan kenikmatan dan kesenangan?
Jadi, bagaimana laku tirakat bisa dijadikan cerminan bentuk ketaatan kita kepada Tuhan, sementara hati manusia masih terikat pada dunia? Sementara di dalam hatinya, manusia masih saja menyimpan benih benih kecacatan di dalam dirinya sendiri. Mengapa orang harus berpura pura saleh dan seolah wajib menjaga tindak-tanduknya di muka umum demi nilai nilai kebenaran dan kemuliaan yang ia yakini? Namun di sisi lain, ia tidak dapat menepiskan hasrat kecemaran di dalam pikirannya? Bagaimana manusia dapat membuang yang satu untuk mendapatkan yang lain? Bagaimana yang palsu adalah juga yang asli, dan kepura-puraan jadi kebenaran yang hakiki? Bukankah itu sebuah hal yang kontradiktif dan saling bertolak belakang?
Bagiku, ini bukan semata-mata soal kesenangan. Bagaimana kita bisa menolak anugerah yang seindah ini? Salah satu puncak dari kepuasan ragawi yang pantas kita syukuri adalah karena Tuhan memberikan kita anugerah untuk bisa merasakan semua itu. Mengapa Tuhan bersusah payah memberi manusia kesenangan hanya untuk menjadikan itu sebagai batu ujian atas keimanannya? Bukankah rencana Tuhan selalu baik dan indah? Bukankah rencana Tuhan selalu menyenangkan? Dan hanya kitalah yang tidak tahu apa artinya bersyukur. Tuhan ingin manusia menyenangkan diri. Sebab percayalah, tak ada satu hal pun yang tercipta tanpa melekat suatu maksud di dalamnya. Dan semestinyalah kita manusia menerima hal itu dengan penuh rasa syukur, terlebih atas semua nikmat yang teramat sangat luar biasa ini. Karena keindahan semestinya mendatangkan kegembiraan, dan kegembiraan mendatangkan rasa syukur. Jadi bagaimana kita bisa mendustakan kenikmatan serupa itu?”
― Titon Rahmawan
Tak bisa kita pungkiri, bahwa bersenang senang adalah kodrat naluriah manusia. Di mana segala sesuatu yang hadir di dunia ini diciptakan dengan sebuah tujuan. Sebab, bila kesenangan itu hadir bukan sebagai buah dari kebaikan Hati Tuhan, lalu bagaimana kita tahu, bahwa penderitaan seorang petarak, kesengsaraan para pelaku asketis, perjuangan mengatasi rasa lapar bagi orang orang yang berpuasa adalah juga buah dari kebaikan hati Tuhan?
Bagaimana para praktisi asketisme dalam berbagai keyakinan ini bisa dengan sengaja menampik kenikmatan duniawi? Membiarkan hidupnya dikuasai penderitaan lahiriah dengan menjalani gaya hidup berpantang, berpuasa tanpa kenal waktu, bahkan ada yang menyiksa dirinya sendiri demi mengejar penebusan dosa, keselamatan akhirat dan sekaligus pencapaian rohani.
Kalaupun para pelaku asketisme ini meyakini, bahwa tindakan mereka itu didasari oleh sebuah pandangan; penderitaan adalah wujud perjalanan menuju transformasi rohani. Di mana rasa lapar itulah kenyang yang sesungguhnya, kesederhanaan adalah tanda berkecukupan, kebahagiaan sejati ada dan tinggal di dalam diri, dan berkekurangan adalah bentuk nyata dari berkelimpahan yang sebenarnya. Lalu, bagaimana kesenangan dan kenikmatan bisa dijadikan batu uji untuk menilai keimanan seseorang?
Apakah kesenangan surgawi harus dibayar dengan penderitaan atas dunia? Dan sebaliknya, apakah kesenangan dunia akan menjadi antitesis bagi kesenangan surgawi? Bila kesenangan surgawi itu setara dengan lautan susu dan madu, serta kehadiran para bidadari nan cantik sebagai sumber kesenangan dan kebahagiaan kita. Lalu apa bedanya kesenangan duniawi dan kesenangan surgawi? Bukankah surga itu tempat yang konon penuh dengan kenikmatan dan kesenangan?
Jadi, bagaimana laku tirakat bisa dijadikan cerminan bentuk ketaatan kita kepada Tuhan, sementara hati manusia masih terikat pada dunia? Sementara di dalam hatinya, manusia masih saja menyimpan benih benih kecacatan di dalam dirinya sendiri. Mengapa orang harus berpura pura saleh dan seolah wajib menjaga tindak-tanduknya di muka umum demi nilai nilai kebenaran dan kemuliaan yang ia yakini? Namun di sisi lain, ia tidak dapat menepiskan hasrat kecemaran di dalam pikirannya? Bagaimana manusia dapat membuang yang satu untuk mendapatkan yang lain? Bagaimana yang palsu adalah juga yang asli, dan kepura-puraan jadi kebenaran yang hakiki? Bukankah itu sebuah hal yang kontradiktif dan saling bertolak belakang?
Bagiku, ini bukan semata-mata soal kesenangan. Bagaimana kita bisa menolak anugerah yang seindah ini? Salah satu puncak dari kepuasan ragawi yang pantas kita syukuri adalah karena Tuhan memberikan kita anugerah untuk bisa merasakan semua itu. Mengapa Tuhan bersusah payah memberi manusia kesenangan hanya untuk menjadikan itu sebagai batu ujian atas keimanannya? Bukankah rencana Tuhan selalu baik dan indah? Bukankah rencana Tuhan selalu menyenangkan? Dan hanya kitalah yang tidak tahu apa artinya bersyukur. Tuhan ingin manusia menyenangkan diri. Sebab percayalah, tak ada satu hal pun yang tercipta tanpa melekat suatu maksud di dalamnya. Dan semestinyalah kita manusia menerima hal itu dengan penuh rasa syukur, terlebih atas semua nikmat yang teramat sangat luar biasa ini. Karena keindahan semestinya mendatangkan kegembiraan, dan kegembiraan mendatangkan rasa syukur. Jadi bagaimana kita bisa mendustakan kenikmatan serupa itu?”
― Titon Rahmawan
“Limitation of our humanity, unable to grasp the truth. What we saw was nothing but an illusion. It is like a thirsty wanderer to see a mirage in a parched desert. We have seen what we want to see, but it is not the ultimate truth. It is a form of thirsty traveler's longing.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“I don't make men my object. I accept them as I accept myself. As a form of longing for love and happiness. And I give myself as the answer to that longing. But of course I won't get caught up in their play. I will not be persuaded by sweet mouth and seduction. I'm not going to fall for a hackneyed romanticism, or a blind orgy party. I give only to those who deserve it, and I expect nothing in return.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“In many cases, humans think themselves as the culmination of all knowledge. In fact, more things we don't know about ourselves. Without knowledge of the source of that truth, humans cannot exist. Humans have no value.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“That's why we should be grateful for the life we live. We have to understand it as a blessing. As a priceless gift. There is nothing that we should be proud of ourselves, because all that is just a gift. The attainment of our quest will never be realized if the True Truth does not interfere in it. It might just go down, because we can't go up.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Having secrets doesn't make a relationship better. That's why I don't cover anything from hubby. In all my relationships with other people I don't need their understanding. For me the understanding from my hubby is more than enough. Because he never judged me or look at me from other eyes than my own happiness. Maybe that's why I felt like I didn't have to cover anything up in front of him. There is not a single secret that I hide from him.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“There is a fundamental difference between factual truth which is logical and acceptable to common sense and the truth from what one can believe. Because someone's belief often does not need logical proof. However, what is logical and makes sense to one person should also make sense to another”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“In a world dominated by male hegemony, women are forced to simply accept the values and carry out the values dictated by men. They are not allowed to interpret these values, let alone dare to oppose them or even simply question them.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar