“Kemenangan sejati tidak akan pernah lahir dari tindakan kekerasan, unjuk kekuatan, ataupun penindasan. Pemenang sejati adalah mereka yang memperoleh kejayaan tanpa harus melakukan penghancuran, pertumpahan darah dan air mata.”
― Titon Rahmawan
tags: pemenang-sejati
“Aku selalu berpikir tentang laki laki. Yang aku kenal atau pun yang tidak. Akan tetapi, aku mungkin saja tidak memikirkan mereka. Banyak laki laki cerdas dan menyenangkan. Tapi tak sedikit pula laki laki bodoh yang menjemukan dan membosankan. Laki laki yang tak pernah membaca buku, tak pernah mendengarkan musik, tak pernah nonton film. Laki laki botak yang tidak menarik. Laki laki yang jadi suami ibuku. Laki laki kurus yang membesarkanku. Laki laki ramah yang menyapaku di jalan. Laki laki tua yang menyenangkan dan mengajakku ngobrol di taman. Laki laki muda yang mencuri lihat untuk mengambil sesuatu dari diriku. Laki laki berkumis yang berpikir diriku terlalu sexy. Laki laki yang tidak punya pikiran lain kecuali mencari kesempatan untuk mengajakku tidur. Laki laki gombal. Laki laki palsu. Laki laki yang mengejar ngejar diriku. Laki laki yang sama sekali tak peduli pada penampilanku. Laki laki gembrot berkacamata. Laki laki pengantar makanan, supir gojek, pengangkut barang barang di terminal. Laki laki yang aku temui di media sosial. Laki laki yang setiap malam mengirim pesan pesan mesum. Laki laki yang mengajakku video call. Laki laki hidung belang yang menggodaku. Laki laki yang berusaha menjadikan diriku selingkuhannya. Laki laki biasa dan luar biasa. Laki laki istimewa. Laki laki yang dulu pernah aku cintai dan tak bisa kuhapus dari ingatan. Laki laki yang aku benci karena pergi meninggalkanku. Laki laki yang kepadanya ingin aku serahkan seluruh hidupku. Laki laki yang memintaku jadi istrinya. Laki laki yang aku nikahi. Laki laki yang jadi bapak anak anakku. Laki laki yang tak bisa hidup tanpaku. Laki laki yang selalu ingin tahu apa yang aku pikirkan. Laki laki baik yang tak pernah membenci siapa pun. Laki laki yang tak pernah lahir dan tak pernah ada.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Supaya engkau tahu, aku akan selalu mencintaimu. Itu pula sebabnya, aku membiarkan pintu itu tak pernah terkunci. Jadi seandainya engkau berniat pulang ke rumah, kau bisa masuk kapan saja.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Sekalipun pertemuan itu bukanlah sebuah kesengajaan, tapi bagaimanapun telah menjadi sebuah peristiwa yang berkesan bagi diriku. Dan terlebih lagi, setelah kemudian aku tahu, bahwa ia adalah seorang penulis. Dengan diam diam pula aku mencari tahu apa saja yang sudah ditulisnya. Namun tidak sebatas mencari tahu, aku pun terpanggil untuk mengoleksi karya karyanya, membaca puisi puisinya dan mengkaji cerpen cerpennya. Melahap semua tulisannya yang sudah termuat di media massa, maupun juga yang telah ia himpun di dalam blog pribadinya. Termasuk pula di dalamnya ada kumpulan esay dan juga novel novelnya yang telah terbit. Meskipun semua itu harus aku lakukan dengan susah payah. Aku tahu, aku telah menjadi fansnya yang nomor satu. Aku rasa, apa yang ia suarakan lewat tulisan tulisannya itu tidak saja merefleksikan buah pemikirannya namun juga kepribadiannya. Menurutku ia adalah seorang yang baik, dan lebih daripada itu ia adalah seorang yang hebat, dan diam diam aku telah jatuh cinta padanya.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Kamu tahu, mengapa kebanyakan orang tidak mau mendengar penjelasan? Karena orang tidak membutuhkan alasan untuk membenarkan diri mereka sendiri.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Buku yang baik tak cuma menggerakkan kalbumu, ia juga akan mampu menggerakkan pikiranmu dan keinginanmu untuk menulis sama baiknya atau bahkan lebih baik.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: buku-dan-menulis
“Guru yang bijak tidak sekedar membagikan ilmu. Mereka juga mengajar tentang arti hidup dan kehidupan. Yaitu ilmu yang akan terus berlaku sampai kapan pun, bahkan sekalipun waktu bertahun tahun telah lewat. Ilmu itu akan tetap mendatangkan manfaat bagi murid muridnya. Tak lekang oleh waktu, tak usang oleh zaman.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: guru-dan-murid
“Yang membedakan seorang guru hebat, dengan para guru lainnya adalah, ia tidak sekedar mengajar; menyampaikan, menjelaskan, memberi contoh atau memeragakan. Ia juga menggali dan berusaha menemukan potensi terbaik dalam diri murid muridnya. Dan lebih daripada itu, guru yang hebat membangkitkan motivasi dan memberikan inspirasi kepada murid muridnya, agar mereka bisa menjadi lebih baik dari dirinya sendiri.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: guru-dan-murid
“Seorang guru yang bijak tidak mendiktekan apa yang ia ketahui untuk ditiru oleh murid muridnya. Guru yang bijak tidak berhenti sebatas mentransfer pengetahuan dan kebajikan. Guru yang bijak membuka pintu cakrawala dan membimbing murid muridnya menentukan langkah, kemana mereka hendak menuju. Bukan atas kemauan gurunya, melainkan berdasar pertimbangan pikiran dan kemauan mereka sendiri.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: guru-dan-murid
“Masalahnya adalah, kita seringkali membiarkan api itu padam bahkan sebelum kita benar benar memulai. Api yang terpercik dari mimpi di tengah hari seketika mati oleh terjangan angin. Kemauan yang tak kukuh, yang ragu ragu, yang tak berwujud, tak berupa, tak tentu arah. Ia akan menjadi, atau tidak sama sekali. Sebab sukses, keberhasilan, kemenangan, pencapaian, prestasi, penghargaan, itu ada dalam hati dan pikiran yang teguh. Tidak ada dalam kata tunda atau tunggu. Ia mesti bergerak, terus maju, tetap berjalan. Ia tak boleh membiarkan badai menyurut langkahnya. Membiarkan petarung dalam dirinya mati oleh rasa frustasi. Tewas dalam kekecewaan, penolakan, kekalahan sementara, kemunduran sejenak. Binasa oleh segala halangan dan penundaan yang ia tahu bisa meruntuhkan dan menghancurkan daya juangnya. Oleh karena itu, ia tidak boleh berhenti, ia hanya butuh sedikit dorongan semangat untuk terus melangkah agar semakin dekat pada apa yang ia tuju.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: daya-juang, semangat
“Menulis itu bukan sekedar menggoreskan pena ke atas kertas. Menulis yang sesungguhnya adalah menggaungkan keabadian melampaui usia peradaban manusia.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Mereka yang tidak pernah belajar untuk memperkatakan hal-hal yang baik dan berharga tentang kehidupan, sesungguhnya telah membuat hidupnya menjadi sia-sia.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: kebaikan-hidup
“Sebagai penulis aku bisa mati, dan mati dan mati berulang ulang kali. Tidaklah menjadi masalah bagi diriku, sepanjang tulisanku tetap hidup.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Daya kreatif itu bukan sekedar bagaimana kita menciptakan sesuatu. Menjadi kreatif itu lebih ke bagaimana kita mengekspresikan diri. Menjadi kreatif bisa menjadi sebuah proses pencarian sekaligus penemuan bagi kapasitas dan kualitas diri kita yang terbaik. Bahkan lebih jauh lagi, bagaimana kita membentuk diri sendiri dan mungkin juga dunia, tempat di mana kita tinggal.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: daya-kreatif, kreatifitas
“Ketika aku menulis, aku menikmati setiap momen kegembiraan yang ada di dalamnya. Saat keran terbuka dan air mulai mengalir atau bahkan memancar dengan deras. Itu adalah momen momen terbaik yang paling aku sukai. Itu sebabnya aku tidak bisa berhenti menulis.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Guru yang bijak tidak akan menghukum apa yang tidak dilakukan muridnya. Bila mereka tidak mengerjakan pekerjaan rumah, atau tidak mengerjakan ujian dengan benar. Karena hukuman hanya diperlukan bagi pelaku kejahatan dan tidak diperlukan untuk memaksa anak murid menjadi patuh. Kesadaran tidak terlahir dari sebuah hukuman. Kesadaran terlahir dari pemahaman yang benar. Dan tugas gurulah untuk membangkitkan kesadaran itu, yaitu dengan cara memberikan pengetahuan untuk memilah kebaikan dari keburukan dan bukannya sanksi. Kepatuhan semestinya terlahir dari sikap respek, penghargaan dan penghormatan atas diri sendiri dan juga terhadap orang lain. Bukan atas dasar perintah atau intimidasi. Kepatuhan semestinya berangkat dari sebuah pemahaman dan kemampuan untuk dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Tugas gurulah untuk menyampaikan, bahwa kebaikan akan membawa konsekuensi kebaikan, keteraturan, kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan. Dan demikian pula sebaliknya.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: guru-dan-murid
“The fact is, we don't live in the truth. Everything we do is falsehood and pretense. We are forced to do whatever it takes to exist.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: irony-of-life
“Aku menulis, karena aku tak ingin melewatkan kesempatan untuk masuk dan menggali ke dalam hati dan pikiranku sendiri.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Murid yang diajar bagaimana cara menghormati dan membangun penghargaan kepada dirinya sendiri, akan belajar pula untuk menghargai dan menghormati orang lain.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: guru-dan-murid
“Tidak masalah apa pun yang kamu tulis. Pada saat kamu selesai menulis, kamu sudah mencetak sejarah setidaknya sejarah bagi dirimu sendiri.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: menulis-sejarah
“Bagaimana sebuah kalimat bisa memiliki kekuatan yang menghipnotis? Seperti suara hujan yang jatuh menimpa air kolam di pekarangan rumah dan membuat kita terpesona.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Aku akan terus terkenang dan berterimakasih kepada guru guruku. Karena tanpa mereka, aku tidak akan mungkin menjadi diriku yang sekarang.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Ketika ia menulis, ia tidak sekadar menyusun kata kata. Ia berusaha menciptakan imajinasi dari bangunan kata kata yang ia inginkan. Seperti seorang arsitek yang menuangkan gagasannya lewat sebuah garis.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Kadang kadang ia tidak menulis sendirian. Seperti orang kesurupan dan ruh ruh yang ia sebut sebagai entitas itu merasukinya. Merekalah yang kemudian menuliskan huruf demi huruf itu hingga menjadi sebuah kata. Dan merangkai kata demi kata itu hingga membentuk sebuah kalimat dan lalu menghubungkan paragraf demi paragraf hingga membentuk sebuah cerita yang utuh.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Berkat terbesar bagi seorang guru adalah ketika ia terus diingat, bukan karena jasa atau pengabdian atau apapun. Melainkan atas andil dan pemberiannya yang tulus dan tanpa pamrih bagi pembentukan karakter seseorang.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Aku tak pernah melupakan dongeng dongeng yang dulu diceritakan oleh nenekku sewaktu aku masih kanak kanak. Aku kemudian tumbuh dan bahkan tetap hidup bersama dengan dongeng dongeng itu hingga aku dewasa. Itu sebabnya aku tak pernah kekurangan bahan untuk menulis cerita.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Baru aku sadari, betapa dalam seluruh perjalanan pencarianku atas makna hidup belumlah banyak yang aku peroleh. Dan dari yang sedikit itu, hal yang terpenting ternyata bukanlah jawaban atau hasil akhir dari semua pertanyaanku, melainkan justru pertanyaan apa yang semestinya aku gulirkan.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: makna-hidup
“Yang membuatnya abadi bukanlah sembarang kalimat, melainkan ruh atau makna yang terkandung di dalam kalimat itu. Karena tidak setiap kalimat akan menjadi abadi. Ia menjadi abadi karena meninggalkan jejak di benak dan menyentuh banyak hati.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: kalimat-abadi
“Guru yang bijak tidak menjadikan murid muridnya menjadi seperti burung beo atau bebek bebek yang hanya mampu mengekor dan mengikuti apa yang ia perintahkan. Guru yang bijak, membangun kreativitas dan kemandirian. Bukan cuma mencetak anak anak yang cerdas secara intelektual. Tapi juga anak anak yang berakhlak mulia, berbudi luhur, memiliki empati, tanggap dan peduli kepada sesama.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Tidak seorang pun yang mewajibkan dan mengharuskan kita untuk berbuat baik. Kita sendirilah yang memilih untuk melakukannya.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar