Rabu, 04 Januari 2023

 “Betapa seringkali orang lebih mudah untuk mengucap kebohongan hanya karena tak ingin dihadapkan pada sebuah situasi yang sulit. Akan tetapi, acap pula ia lupa bahwa kejujuranlah yang justru akan menjauhkannnya dari berbagai kesulitan”

― Titon Rahmawan
“Di dalam dunia yang cenderung tidak memiliki tradisi membaca dan
tidak cukup memahami makna puisi, maka status kepenyairan tidak
mungkin bergantung atau diserahkan sepenuhnya kepada penilaian dan
pandangan pembaca. Otoritas atas kepenyairan ada pada tangan penyair
itu sendiri, yaitu pada keadaan di mana seorang penyair dapat
menggali seluruh potensi yang dimilikinya untuk melahirkan dirinya
sendiri.”
― Titon Rahmawan
“Saat berpisah, mata berasa ingin basah. Lalu rindu tiba tiba menyeruak begitu saja. Peluk kian diketatkan, waktu belum lagi beranjak pergi, dan cium seperti habis kesempatan. Tak mau dilepas.”
― Titon Rahmawan
“Tidaklah mungkin seorang penyair lahir dari sebuah situasi kekosongan.
Ia hanya mungkin lahir dari sebuah perenungan atau pemikiran yang
sublim. Dan bila pun kemudian ia terpaksa muncul dari sebuah situasi
kekosongan, ia tidak akan mungkin bertahan dalam keadaan sedemikian
rupa itu terus-menerus tanpa ada upaya untuk melepaskan diri dari
belenggu yang mengungkung dirinya.”
― Titon Rahmawan
“Seorang penyair harus mampu memberikan makna bagi dirinya sendiri
dan terutama bagi karya-karyanya, karena ia mengemban amanat besar
untuk mengkomunikasikan realitas psikologis maupun sosiologis dari
dirinya sendiri, baik sebagai individu maupun sekaligus sebagai
bagian dari masyarakatnya”
― Titon Rahmawan
“Ketika pikiran kita mulai diliputi oleh rasa takut dan kekhawatiran. Itu adalah sebuah sinyal yang dikirimkan oleh otak kepada tubuh, agar kita beristirahat dan melepaskan diri sejenak dari segala pengaruh dan permasalahan dunia ini.”
― Titon Rahmawan
“Tugas utama para penyair adalah memberikan dan mempertahankan kehidupan dan bukannya tunduk pada kekuatan kematian atau tekanan kekuasaan manapun yang hendak mengkerdilkan makna dari puisi itu sendiri.”
― Titon Rahmawan
“Kebahagiaanku bukan sesuatu untuk aku pertaruhkan. Kebahagianku adalah sesuatu yang final dan tidak untuk diperdebatkan. Nilai yang akan aku perjuangkan sepenuh hati apa pun itu.”
― Titon rahmawan
“Bagaimana seseorang dapat mengharapkan umur panjang sementara ia tak memiliki penghargaan dan penghormatan pada diri sendiri?”
― Titon Rahmawan
“Apabila kata kata tersebut kemudian mengalami metamorfosis di dalam sajak dan menjelma menjadi seorang manusia maka ia harus seutuhnya menggambarkan manusia. Ia bukan sekedar mata kanan atau mata
kiri, bukan pula tangan kanan atau tangan kiri. Karena ia bukan sapi,
kelinci, kucing atau anjing. Ia harus memiliki identitas, dan identitasnya itu adalah dirinya sendiri; wujud sajak sebagai cerminan terdalam dari apa yang dirasakan oleh sang penyair. Ia harus mampu menyatakan dirinya secara utuh. Ia harus menjadikan dirinya sendiri berarti. Agar dengan demikian, ia pantas untuk hadir dan dihargai. Agar kemudian ia pantas pula untuk menjalani eksistensi dari kehidupannya sebagai
bagian dari kehidupan manusia.”
― Titon Rahmawan
“Bukan aku yang menentukan keberadaanku, melainkan kebenaran yang ada di luar diriku. Aku berasal darinya dan bukan sebaliknya. Dialah yang menyatakan dirinya di dalam keberadaanku. Baginya, aku hanyalah sekadar obyek dari keberadaan.”
― Titon Rahmawan
“Kualitas hidup seseorang seringkali dinilai dari tiga hal; tingkat intelektual, kondisi emosional dan interaksi sosial. Bagaimana seseorang mendapatkan kepenuhan atas ketiga hal itu bergantung pada apa yang ia pelajari, pada buku apa yang ia baca, pada apa yang ia tindakkan, pengalaman apa yang ia peroleh dan kebaikan apa yang ia berikan atau hasilkan untuk orang lain. Kebijaksanaan dan kebahagiaan hanya mungkin diperoleh dari kesesuaian dari apa yang kita pikirkan dan apa yang kita tindakan.”
― Titon Rahmawan
“Tujuan utama kehadiran sebuah sajak, bukan sekedar untuk merayakan kepedihan, atau mengungkapkan rasa sekedar. Ia harus sanggup memberikan kehidupan dan tempat yang seluas-luasnya bagi kreativitas. Sebagaimana batu hidup bersama dengan waktu dan menjeritkan kebisuannya. Sebagaimana waktu hidup dan berdetak di tengah tengah kita bersama keberadaan kata-kata.”
― Titon Rahmawan
“Pernahkah terpikir olehmu, bahwa dalam setiap pemberian Tuhan ada terselip sebuah amanah, hingga sejauh mana kita mampu bersyukur? Betapa hampir dalam setiap doa kita hanya mampu meminta, dan hampir tak pernah terbersit sedikit pun pikiran, apa yang sepatutnya kita persembahkan sebagai ungkapan rasa terima kasih kita kepada Nya?”
― Titon Rahmawan
“Sebuah tulisan yang bagus, apapun bentuknya setelah diterbitkan bukan lagi milik penulisnya. Pada intinya itu telah berubah menjadi sebuah pemberian, warisan dari penulis kepada dunia. Dan sebagai gantinya, dunia akan mencatatnya dalam buku sejarah.”
― Titon Rahmawan
“Acapkali, pria tidak melihat kita perempuan dalam kapasitas yang setara. Banyak dari perempuan yang disepelekan, tidak dianggap dan bahkan dipandang sebelah mata. Mereka tidak tahu, bahwa dalam banyak hal perempuan bisa lebih tangkas, lebih cekatan, lebih tanggap dan lebih cerdas dari mereka. Coba kasih mereka tantangan untuk memasak, mencuci, mengasuh anak, menonton sinetron dan menjawab pesan sekaligus. Dianggapnya kita cuma paham urusan domestik. Cuma ngerti urusan dapur dan kasur. Wanita cuma disejajarkan sebagai konco wingking alias pelengkap penderita. Kita dianggap buta politik dan nggak ngerti urusan ekonomi. Mereka yang masih menilai perempuan dengan sudut pandang seperti itu pastilah jenis laki laki yang tidak tahu bagaimana menghargai dan menghormati ibunya.”
― Titon Rahmawan
“Siapa bilang dunia ini adil? Nyatanya, standar kesucian dan kemurnian hanya berlaku buat perempuan dan tidak berlaku buat laki-laki. Apakah standar ganda moralitas tidak bersikap diskriminatif? Bukankah istilah "perawan" itu tidak kurang diskriminatifnya? Betapa malangnya kita kaum perempuan yang dipaksa mempertaruhkan kehormatan dan harga diri hanya pada sebatas kulit setipis selaput dara.”
― Titon Rahmawan
“Ada satu waktu di mana orang berjalan bermil mil untuk mendapatkan air. Sedang yang lain mesti menggali berkilo meter dalamnya untuk menemukan sumbernya. Tapi, bukankah ada mata air di dalam setiap hati, dan telaga jernih di dalam setiap pikiran? Mereka yang bijak tahu bagaimana mereka bisa minum tanpa harus membuang energi dengan percuma dan sia-sia. Mereka yang bijak tahu di mana letak samudra kebenaran yang sesungguhnya. Bukan jauh di luar sana, melainkan dekat di dalam diri mereka sendiri.”
― Titon Rahmawan
“Dalam banyak hal aku merasa, bahwa fiksi seringkali lebih jujur daripada realitas. Fiksi memungkinkan kita membebaskan diri dari penjara kemunafikan, tanpa terbeban oleh penilaian orang lain.”
― Titon Rahmawan
“Ada perbedaan mendasar antara keinginan menjadi seorang penulis dengan menjadi penulis yang sesungguhnya. Keinginan bisa berhenti hanya sebagai sebuah keinginan. Tetapi menjadi itu berarti membebaskan diri dari semua beban dan hanya fokus pada sebuah pemahaman, bahwa tulisan yang bagus terlahir dari sebuah proses yang tiada henti. Ia tidak akan berpaling dari tujuan utamanya, yaitu agar bagaimana tulisan itu bisa dibaca. Ia mungkin saja ditolak oleh 10 atau bahkan 100 penerbit, tapi hal itu tidak akan menyurutkan niat seorang penulis. Ini bukan sekedar soal bakat, tehnik atau visi kepenulisan. Ini lebih pada soal bagaimana kita sanggup mempertahankan kemauan, komitmen dan konsistensi.”
― Titon Rahmawan
“Sungguh sangat disayangkan," batinku, "Ia seperti menggali luka dan kesedihan dari hati orang lain. Apakah hanya dengan cara seperti itu ia dapat melupakan lukanya sendiri? Apakah dengan umpatan dan makian ia dapat mewujudkan apa yang ia mau?”
― Titon Rahmawan
“Seperti pernah aku katakan, apa yang sebenarnya kita pahami dari hidup ini? Kebenaran tak berasal dari dirimu. Namun, ia menyentuhmu dengan semacam cahaya. Yang tak akan kau mengerti sebegitu rupa, sebelum engkau sadari, ada kebebalan dalam diri yang mesti engkau tanggalkan.”
― Titon Rahmawan
“Bukannya aku tidak percaya pada bakat, aku hanya lebih percaya pada kerja keras. Kerja keras dan semangat pantang menyerah yang akan menjamin keberhasilanku.”
― Titon Rahmawan
“Bagian terbaik dari rumahku bukanlah ruang tamu atau ruang makan melainkan beranda yang penuh dengan tanaman, dan ruang keluarga yang penuh dengan buku. Di tempat itulah aku beroleh ketenangan, kesenangan dan inspirasi.”
― Titon Rahmawan
“Bahkan seorang penulis, bila ia benar benar serius menyikapi status kepenulisannya harus membiasakan diri untuk ditolak. Ini tidak lebih buruk dari seorang pedagang yang cuma berhasil menjual satu barang setelah melewati setidaknya 100 kali penolakan.”
― Titon Rahmawan
“Ketahuilah Kawan, ini bukan semata mata tentang bagaimana dan mengapa engkau ditolak untuk pertama kali atau bahkan untuk keseratus kali. Ini tentang ketahanan diri. Tentang semangat dan juga komitmen. Lebih dari sekedar bakat, visi atau tehnik penulisan. Ini tentang bagaimana kita sebagai penulis tetap konsisten menulis, dan terus menulis walau berulang kali mengalami penolakan.”
― Titon Rahmawan
“Penulis yang sesungguhnya, adalah mereka yang mau mendedikasikan diri sepenuhnya pada apa yang ingin ia tulis. Tidak perduli apakah ia harus menghabiskan waktu seumur hidupnya untuk menyelesaikan tulisan itu. Walapun besar kemungkinan tulisan itu akan ditolak dan tidak pernah dipublikasikan sama sekali.”
― Titon Rahmawan
“Bukankah semua orang akan selalu mencari pembenaran atas dirinya sendiri. Orang akan menemukan seribu alasan untuk itu. Jadi jangan pernah melihat padaku dengan tatapan seperti itu. Engkau pun tak akan menyukai diperlakukan dengan cara seperti itu, seperti seorang pesakitan yang menunggu waktu untuk dieksekusi. Aku tak membutuhkan simpatimu. Tapi jangan tatap aku seperti itu. Aku akan memaafkanmu bila itu perlu, atas apa yang engkau tuduhkan. Tapi tanpa ketersediaan bukti bukti kau sama sekali tidak berhak untuk menghakimi diriku.”
― Titon Rahmawan
“Akan ada masa di mana mereka yang datang akan jadi mereka yang pergi. Dan di antara keduanya, ada begitu banyak kata-kata nir makna dan ucapan yang sia-sia berhamburan. Dunia tenggelam dalam ilusi saat sangkakala kematian dibunyikan. Tidak ada yang tinggal, kecuali sekerlip ingatan pada segala kebajikan dan ucapan orang-orang bijak.”
― Titon Rahmawan
“Percayalah, buku yang baik entah bagaimana, pasti akan menemukan pembacanya.”
― Titon Rahmawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  ~ Jangan lempar batu sembunyi tangan ~ "Jangan mencari pembenaran dengan cara membuka aib orang lain hanya demi menutupi aib diri sen...