Sabtu, 25 Februari 2023

Kata Mbah Kyai Mahrus Ali Lirboyo


Kata Mbah Kyai Mahrus Ali Lirboyo siapa orang yang suka melantunkan 3 bait Qosidah Burdah ini selama hidupnya tidak akan pernah kekurangan beras (serba kecukupan tidak bakal kesusahan).

مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًاأَبَدً ، عَلَى حَبِيْبِكَ
خَيْرِاْلخَلْقِ كُلِّهِمِ

MAULAYA SHOLLI WASALLIM DA'IMAN ABADA ALA HABIBIKA KHOIRIL KHOLQI KULLIHIMI

Ya Tuhanku, curahkanlah selalu rahmat dan salam sepanjang masa, kepada Kekasih-Mu yang terbaik dari seluruh makhluk.

هُوَ اْلحَبِيْبُ الَّذِىْ تُرْجَ شَفَاعَتُهُ ، لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ اْلأَهْوَالِ مُقْتَحَمِ

HUWAL HABIBULADZI TURJASYAFA'ATUHU LIKULLI HAULIN MINAL AHLI MUKTAHIMI

Dialah Sang Kekasih yang syafaatnya senantiasa dinanti, dalam menghadapi segala derita dan malapetaka yang menerpa.

يَارَبِّ بِاْلمُصْطَفَى بَلِغْ مَقَا صِدَنَا ، وَغْفِرْلَنَامَامَضَى يَاوَاسِعَ اْلكَرَمِ

YA ROBBIBIL MUSTHOFA BALIGMAQO SIDANA WAGHFIRLANA MAMADO YA WAASI'AL KAROMI

Ya Tuhanku, dengan kedudukan Al Musthofa Shallahu Alaihi Wasallam, kabulkanlah segala maksud-maksud kami, dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Tuhan kami Yang Maha Luas Kemurahannya.

Wallahu'alam.

Maka dari itu setiap selesai majelis kami para santri selalu membacanya. 

 

HAKIKAT JALAN SUFI DARI SYEKH ABU HASAN ASY-SYADZILI


HAKIKAT JALAN SUFI DARI SYEKH ABU HASAN ASY-SYADZILI

Menurut Imam Asy-Syadzili, jalan tasawuf itu bukanlah jalan kerahiban, menyendiri di goa, meninggalkan tanggung jawab sosial, tampak miskin menderita, memakan makanan sisa, pakaian compang-camping dan sebagainya. Tetapi, jalan sufi adalah jalan kesabaran dan keyakinan dalam petunjuk Ilahi.

Allah SWT berfirman, Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar (dalam menegakkan kebenaran) dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya. (QS As-Sajadah [32]: 24-25)

Imam Asy-Syadzili mengatakan, "Pelabuhan (tasawuf) ini sungguh mulia, padanya lima perkara, yakni: sabar, takwa, wara, yakin dan makrifat. Sabar jika ia disakiti, takwa dengan tidak menyakiti, bersikap wara terhadap yang keluar masuk dari sini beliau menunjuk ke mulutnyadan pada hatinya, bahwa tidak menerbos masuk ke dalamnya selain apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, serta keyakinan terhadap rezeki (yang diberikan Allah) dan bermakrifat terhadap Al-Haqq, yang tidak akan hina seseorang bersamanya, kepada siapa pun dari makhluk.

Allah SWT berfirman, Bersabarlah (Hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS An-Nahl [16]: 127-128)

Orang yang berakal adalah orang yang mengenal Allah, apa-apa yang Dia kehendaki atasnya dan apa yang berasal darinya secara syariat. Dan, hal yang Allah inginkan dari seorang hamba adalah empat perkara: adakalanya berupa nikmat atau cobaan, ketaatan atau kemaksiatan.

Jika kau berada dalam kenikmatan, maka Allah menuntutmu untuk bersyukur secara syariat. Jika Allah menghendaki cobaan bagimu, maka Dia menuntutmu untuk bersabar secara syariat. "

--Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili, Durrat Al-Asrar wa Tuhfat Al-Abrar, Muhammad Ibnu Abi Qasim Al-Humairi

 

Menyebarkan atau menyampaikan ilmu bagus bahkan wajib


Menyebarkan atau menyampaikan ilmu bagus bahkan wajib, tapi tidak semua ilmu boleh disebarkan luaskan secara umum, hal ini seperti yg terkait dengan rahasia rahasia allah pada para kekasihnya.

Hal ini juga sebagaimana dijelaskan oleh imam mushtofa al bakri dalam nadhom beliau ;
يشير في كتم علوم القوم # من كل سكران بخمر النوم
Beliau (para kekasih allah) mengajarkan kepada kita untuk pandai pandai menyimpan atau merahasiakan ilmu (rahasia) beliau, dari mereka yg sedang mabuk dengan tidur nyenyaknya (masyarakat awam).

Hal ini juga sebagaimana sering didawuhkan (dipesannkan) oleh imam junaid al badhdadi kepada imam syibli :

لا تفش سر الله تعالى بين المحجوبين
Awas sibli saya pesan berkali kali ini, jangan sampai kau buka (sebar luaskan) rahasia allah pada mereka yg terhijab (maysrakat awam).

Fenomena saat ini sering kali tidak sesuai apa yg dipesankan oleh salafus sholeh. Banyak chanel youtube menyampaikan kajian tasawuf yg mestinya tidak dikonsumsi orang awam, namun g bisa nyalahin seratus persen yg seperti ini, sebab hal ini kadang sengaja dilakukan karena orang orang awamnya pada males datang ke majlis ta’lim secara langsung, ahirnya jadi rancu.

Dalam kajian kitab bulan ramadhan maulana habib luthfi sudah mencotohkan hal ini, kenapa beliau tidak berkenan ditayangkan live, hal ini tidak lain disebabkan tidak jarang didapati ilmu ilmu yg tidak semestinya dikonsumsi oleh masyarakat secara umum.

Ada banyak group thoriqoh di medsos, dan tidak sedikit ditemukan tanya pembahasan ilmu yg dhakik dhakik (pembahasan tingkat tinggi bin jlimet disana) ahirnya ada satu peserta jawab, satunya jawab dengan jawaban beda dan seterusnya. Gini ini yg tanya sama yg jawab sama gobloknya, mestinya kalau memang murid thoriqoh tanya ke gurunya bukan malah tanya di medsos yg merupakan ranah publik. Apalagi terkait ilmu yg khos
Terima Kasihku untukmu Mursyidku 🤲
.
.
.
cr. @ikhwansyadziliyah

اَللَّــهُمَّ صَلِّ عَـلـٰى سَـيِّـدِنَـا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَـبِـيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّـيِّ وَعَــلـٰى أَلِـهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا بِقَدْرِ عَظَمَةِ ذَاتِكَ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ

 

Rabu, 22 Februari 2023

 


Kalo' mau baca alqur'an, sholawatan, pujian-2 atas keagungan Allah, doa, ato apapun itu yang berbahasa arab.., sebaiknya dipelajari dulu dengan teliti, jangan sampai salah pengucapan harakat apalagi sampai salah pengucapan hurufnya, karena kesalahan itu bisa jadi akan sangat fatal, apabila arti ato maknanya berbalik kepada hal yang buruk, terlebih dalam mengagungkan Allah dan kalimat tauhid, itu bisa berdampak kufur bahkan bisa murtad. Na'udzubillah min dzalik..

 

Misalkan kalimat إلَى يَوْمِ الْآخِرَةِ yang artinya "sampai hari qiyamat", lalu diucapkan dengan إِلَّا يَوْمِ الْآخِرَةِ yang bermakna "kecuali hari qiyamat", itu jelas jauh berbeda dan mengandung arti pengecualian.

 

makanya hati-hati, jangan sembrono dan asal-asalan.

 

kemudian mengucapkan ﷲُ أَكْبَر yang artinya mengagungkan Allah, lalu diucapkan dengan kalimat ﷲُ أَكْبَار yang perbedaannya hanya memanjangkan huruf بَا nya, kelihatannya seolah sepele, akan tetapi maknanya bisa bikin murtad, karena merubah kalimat yang menggungkan Allah menjadi kalimat yang mengolok Allah, dengan arti/makna (maaf) 🙏"Allah itu gendrang".

 

yang seperti ini justru akan berdampak kemurtadan kepada Allah Ta'ala.

 

Na'udzubillah min dzalik..

 





Allah Tidak Merubah Keadaan Suatu Kaum Sampai Mereka…???

 

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ

 

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. {Qs. Ar-Ra’d [13] : 11}

 

Secara gamblang.., kalo’ kita tidak mempelajari detail makna ayat ini, maka kita akan mempunyai persepsi bahwa :

 

“Diri kita sendiri-lah yang mampu merubah keadaan kita ..!!!”

 

Contoh pemahamannya jadi seperti ini :

 

“kalau saya mengubah diri saya, maka saya pasti bisa berubah !”

 

Kalo’ benar seperti itu..,

Lantas Allah Ta’ala sebagai pemegang murni ketentuan alam semesta ini, kamu kemanakan.. ???

Seolah-olah usaha sendiri lebih dominan daripada ketentuan Allah yang Maha Kuasa.

Dimana peran Allah-nya, kalau begitu ?!

Kita hanya mengubah diri sendiri aja, cukup !! Pasti berhasil.

Allah sih ngikutin aja.. gitu maksudnya ?!!

 

Sedangkan disisi lain, ada Hadits Rasul Saw yang jelas disabdakan disitu, bahwa :

 

“Sesungguhnya Tuhanku berkata kepadaku : Wahai Muhammad !, Sesungguhnya Aku [Allah] kalau sudah menentukan sesuatu, maka tiada seorang pun yang sanggup menolaknya”. (H. R. Muslim).

 

Dihadits ini jelas, bahwa Allah lah yang mendominasi kehidupan ini, baik dunia maupun akhirat, menunjukkan kalo’ ketentuan-NYA yang tak bisa diganggu gugat.

.

.

Ngaji terus.., ngaji lagi.., ngaji maning.. !!!

Jangan pernah berhenti Ngaji atau mencari dan

memperdalam ilmu agama islam, terlebih ilmu alQur’an dan Hadits.

.. .. .. ..

Allah Tidak Mengubah Keadaan Suatu Kaum Sampai Mereka…?

Pengetahuan Islam Dasar

SALAH SATU penggalan ayat yang paling aneh dan janggal buat saya, adalah Qur’an Ar-Ra’d : 11, yang kerap diterjemahkan,

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. [13] : 11

Di ayat itu sangat janggal: usaha sendiri lebih dominan daripada kehendak Dia yang Mahakuasa. Di mana peran Allahnya, kalau begitu? Kita hanya mengubah diri sendiri saja, cukup. Pasti berhasil. Allah sih ngikutin aja.

Di sisi lain, ada hadits riwayat muslim,

“Sesungguhnya Tuhanku berkata padaku: Wahai Muhammad! Sesungguhnya Aku kalau sudah menentukan sesuatu maka tiada seorang pun yang sanggup menolaknya”. (H. R. Muslim).

Di hadits ini, jelas ‘dominasi’ Dia. Keperkasaan Dia, Dia yang tak bisa diganggu gugat. Kok, nggak klop?

Sampai suatu hari, saya dan teman-teman diajari membongkar ayat tersebut oleh guru saya. Ayat aslinya adalah,

“Innallaha la yughayyiru ma bi qoumin, hatta yughayyiru ma bi anfusihim.”

Terjemahan real-nya, bukan interpretatif, adalah:

“Sesungguhnya Allah tidak merubah ‘apa-apa/keadaan yang ada pada suatu kaum’ (ma bi qoumin), hingga mereka mengubah apa-apa/keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka (ma bi anfusihim).’

Itulah masalahnya. Terjemahannya. ‘Apa-apa yang ada/keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka’, diterjemahkan jadi ‘keadaan diri mereka sendiri’.

Itulah sebabnya, pemahamannya jadi, ‘kalau saya mengubah diri, maka saya bisa!’. Padahal artinya adalah, ‘Kalau saya mengubah jiwa saya, maka Allah pun akan memperbaiki keadaan/kondisi saya’.

Nafs, adalah ‘jiwa’. Jamaknya, anfus. Jiwa-jiwa.

Apa itu ‘apa-apa yang ada pada jiwa’, atau ‘keadaan jiwa’ yang harus diubah, sehingga Allah berkenan mengangkat kita?

Apa-apa yang ada pada/bersama jiwa (bi anfus), adalah hawa nafsu.

Keadaan jiwa, adalah jiwa yang masih dalam tingkat keadaan ‘jiwa yang mengajak pada keburukan’ (nafs ammarah bis su’) atau ‘jiwa yang terombang ambing antara perbuatan dan penyesalan’ (nafs lawwamah), diangkat naik menjadi jiwa yang tinggi, jiwa yang tenang (nafs mutma’innah).

Nah. Sejak itu, ayat itu jadi makes sense. Klop. Kalau kita memperbaiki kondisi jiwa kita dan hawa nafsu kita, tentu saja Allah akan memperbaiki kita sebagai insan. Pendeknya, kalau kita mau berubah, kita cukup berurusan dengan hawa nafsu kita, dan Allah akan memperbaiki seluruh semesta insan kita yang lainnya. Lahir dan batin. Just change your hawwa-nafs, and He would take care of all others.

Eureka, deh. Malah semakin terlihat betapa Maha Pemurahnya Allah pada hamba-hamba yang bertaubat, kan?

Terjemahan bahasa Inggris malah agak lebih pas: //”Indeed, Allah will not change the condition of a people until they change what is in themselves.”//

Nah. Change ‘what is in themselves’.

Jadi, sekali lagi, arti ayat itu bukan, ‘kita usaha, maka kita bisa’. Makna yang ‘meleset’ ini biasanya cenderung dieksploitasi secara tidak pada tempatnya, seperti untuk keuntungan-keuntungan jangka pendek. Tapi, maksud ayat itu adalah ‘ubahlah kondisi jiwa kita (agar tidak lagi terbelenggu hawa nafsu), maka Allah akan mengubah keadaan kita’.

----------------------------- 


 

 


KE MANA KEMBALINYA DHOMIR HA' DALAM "يا الله بها يا الله بحسن الخاتمة" ?

 

Redaksi dzikir يا الله بها يا الله بحسن الخاتمة dapat ditemui dalam Ratib (kumpulan dzikir) Al Athas juga ada di Ratib Al Haddad selain itu juga sering dibaca dalam penutup mahallul qiyam, namun yang tidak banyak diketahui dan dipahami adalah dhomir ها dalam redaksi kembali ke mana ?

 

Saya terus penasaran setiap kali melafalkan redaksi ini, tentunya dzikir akan beda rasanya antara dipahami maknanya dengan tidak.

 

.. .. .. ..

 

Setelah agak lama penasaran akhirnya saya menemukan jawabannya di kitab "Al Qirthos Syarh Ratib Al Atthas" karya Al Habib Ali bin Hasan Al Atthas pada juz 2 halaman 258 di catatan kakinya disebutkan bahwa dhomir ها dalam redaksi dzikir kembali pada حسن الخاتمة (lihat gambar).

 

Sehingga kedudukan dhomir ها sebagai mubdal minhu dari badal حسن الخاتمة, hal ini dibolehkan sebagaimana dikatakan oleh ibnu malik dalam bait alfiyah :

 

كزُرْه خالدا وقبِّلْه اليدا ** وعرِفْه حقه وخُذْ نَبْلا مدى

 

Pada bait di atas dhomir pada زره kembali ke خالدا.

 

Sehingga kalau diterjemahkan kurang lebih :

"Ya Allah (tutuplah hidupku) dengan husnul khatimah"

 

.

.

Apabila kita gemar berdzikir, tentunya dzikir akan

terasa sangat berbeda rasanya, antara dipahami

maknanya dengan hanya asal mengucap saja, tetapi

tidak tau maksudnya.

.

.

Wallahua'lam.






 


 

لا تكره شيئا اختاره الله لك !

فعلى البلاء تؤجر.., وعلى المرضى تؤجر..,

وعلى الفقد تؤجر.., وعلى الصبر تؤجر..,

فرب الخير لايأتي إلا بخير..

 

Janganlah engkau membenci segala yang telah

Allah takdirkan kepadamu.

Diatas segala musibah, sakit dan kehilangan itu

akan diberikan ganjaran oleh Allah Ta’ala,

bahkan bersabar itu sendiri juga akan diganjarkan.

Niscaya kebaikan tidak akan mendatangkan

kecuali kebaikan pula.

 

Musibah, Sakit, Kehilangan, Sabar, dan semacamnya..

Sejatinya itu adalah kebaikan dari Allah yang akan mendatangkan

ganjaran tersendiri bagi orang-orang yang menerimanya dengan

keikhlasan hati, dibalik itu semua juga ada derajat yang tinggi disisi

Allah Ta’ala.

Akan tetapi.., sedikit sekali dari kita yang memahami itu semua.

Bahkan didalam alQur’an pun, kalimat “Kesulitan” dan “Kemudahan”

letaknya sejajar berdekatan.

Itu pertanda bahwa dibalik kesulitan pasti akan ada kemudahan.

 

Terkadang suatu kesulitan menghampiri kita yang menyebabkan kita

menangis bahkan menitikkan rasa sakit yang mendalam, akan tetapi

kita harus mencoba untuk menguatkan diri dengan ayat ini :

 

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

 

yang pada akhirnya nanti pasti mendapatkan ketenangan yang sempurna,

bahkan kepada perkara yang sangat mencekam sekalipun kita harus

kuat dan tersenyum, karena kita yakin bahwa setelah kesulitan itu pasti

akan ada kemudahan yang lebih banyak.

 

Sesungguhnya setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Allah mengulang

ini pada ayat selanjutnya, agar semakin menguatkan bahwa siapapun

yang memiliki kesulitan harus meyakini bahwa Allah akan segera memberi

kemudahan, ini adalah janji dari Allah Ta’ala. Tinggal kita mengoreksi diri,

sekuat apa keyakinan dan keimanan kita kepada firman-firman Allah yang

mungkin sering kita baca berulang kali didalam alQur’an, bahkan sampai

ada diantara kita yang melazimkan bacaan surat/ayat ini sebagai amalan

dzikir/wirid ataupun dibacanya dalam setiap rakaat pada sholat ‘isya, atau

bahkan ada yang menggandengkannya dengan surat alfalaq, mengambil

fadlilah dengan niat mengharapkan kekayaan dunia. Amalan yang

seperti itu sah-sah aja, karena tetap menggantungkan diri kepada Allah,

tidak ada kesyirikan didalamnya meski yang diharapkan adalah dunia.

.

.

.

{ OnstOrytelling - NgajiSekyoo.. }


  ~ Jangan lempar batu sembunyi tangan ~ "Jangan mencari pembenaran dengan cara membuka aib orang lain hanya demi menutupi aib diri sen...