Rabu, 04 Januari 2023

 “Justru karena aku sadar, aku bukanlah malaikat. Terlalu banyak iblis di dalam diriku, dan aku tak hendak menyangkal kebusukan dan kehinaanku sendiri. Aku tidak akan membanggakan kualitas yang tidak layak aku miliki. Aku tidak berhak mengharap apa yang tak pantas aku terima. Namun aku tetap berusaha untuk menjadi baik. Bahkan sekiranya aku ini adalah perwujudan dari setan, penghulu iblis sendiri sekalipun, apakah aku tak berhak untuk menerima pengampunan dan kemurahan hati Tuhan Yang Maha Pengasih?”

― Titon Rahmawan
“Bagaimana engkau akan menemukan hikmah dari balik sebuah musibah , bila engkau selalu berkecil hati saat menghadapi kesulitan? Sebab hanya mereka yang menaruh harapan, yang akan menemukan berkat dan karunia kebenaran.”
― Titon Rahmawan
“Kamu pantas mendapatkan apa yang sungguh sungguh kamu perjuangkan, bukan hanya sebatas pada apa yang sebatas yang kamu inginkan. Hal itu berlaku untuk segala hal termasuk juga cinta.”
― Titon Rahmawan
“Seorang bijak pernah memberikan nasihat serupa ini pada diriku: Bila engkau masih mencari dan belum berhasil menemukan makna kebahagiaan sejati, maka engkau tak perlu berkecil hati. Karena barangkali, engkau terlalu jauh mencari hingga kemudian tersesat. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kebahagiaan sejati tidak berada dalam harapan-harapan yang muluk, dalam angan-angan yang tak terselami atau tersembunyi di tempat yang jauh. Mereka yang telah menemukan tahu, bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu berada tak jauh dari sisi kita. Ia bahkan ada di dalam hati kita. Yaitu pada penerimaan kita atas kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Pada setiap hikmat dan kebajikan yang dengan tekun kita tabur dan tanpa kita sadari kemudian kita diberi kesempatan untuk menuainya. Juga pada setiap kesediaan kita berbagi dengan orang-orang yang berkesusahan, pada keiklasan kita memberi kepada mereka yang membutuhkan, pada setiap penghiburan yang kita bebatkan pada luka-luka orang yang sakit dan menderita. Serta seulas senyum yang senantiasa tersungging di wajah kita saat menyambut datang dan berlalunya hari-hari. Pada saat serupa itulah kita akan merasakan makna sesungguhnya dari kebahagiaan sejati.”
― Titon Rahmawan, Turquoise
“Kita tak bisa larut dalam anggapan umum, pada apa yang diyakini masyarakat banyak sebagai moralitas. Keyakinan absurd atas apa yang mereka sebut sebagai sebuah kesepakatan konvensional. Prinsip prinsip konservatif yang mengatur pandangan pribadi demi pribadi demi kontrak sosial. Ide yang ditanamkan ke dalam benak setiap orang. Bagaimana mungkin penilaian pribadi menjadi setara dengan agama atau kepercayaan? Bagaimana subyektivitas menghancurkan ruang ruang pribadi dan tidak menyisakan tempat untuk berdialog?”
― Titon Rahmawan
“Saling bertatap saja dari kejauhan. Seperti ingin menakar rasa dan pikiran masing masing. Tak berani menduga, apakah ini yang orang bilang, cinta pada pandangan pertama? Entahlah, mungkin waktu yang akan membuktikannya nanti.”
― Titon Rahmawan
“Buku bukan cuma jendela dunia, buku adalah pintu ke dalam hati dan pikiran manusia.”
― Titon Rahmawan
“Sesungguhnya, dari sekian banyak profesi -guru, menanggung beban yang teramat berat. Karena harkat dan keluhuran seorang guru seringkali dinilai dari watak dan perilaku murid-muridnya.”
― Titon Rahmawan
“Tidak menanti untuk dicinta. Ada yang tak terucap di bibir, cuma separuh nyeri di dada. Demikianlah; awan mendung sarat hujan, kilat menyambar di kejauhan, kabut lindap di malam sunyi.”
― Titon Rahmawan
“Seperti katamu, cinta tak sesederhana puisi. Bukan sekedar kata kata dan saran keindahan.”
― Titon Rahmawan
“Bagian terpenting dari kecantikan, bukan pada riasan make up yang dipakai, bukan pula pada pakaian dan perhiasan yang dikenakan. Sebab yang terutama dan terpenting dari kecantikan adalah kepribadian. Watak dan karakter yang terpancar dari dalam diri seseorang. Itulah inti dari kecantikan yang sesungguhnya. Ketika seseorang mampu dan berani tampil sebagaimana adanya, dengan kesadaran atas kelebihan dan kekurangan diri masing masing. Sebab tidak akan ada kecantikan yang sempurna tanpa kepribadian yang baik. Make up dan yang lain - lain itu tidak akan mampu mengubah karakter seseorang, selama ia tak bisa menjadi dirinya sendiri.”
― Titon Rahmawan
“I won't be understood if I don't have a goal. Has no motive. Not to expose the truth. Not also to be judged. But from the beginning I knew and realized, I would not be easy to understand.”
― Titon Rahmawan
“Masih bergelut dengan pikiran, berkutat dengan diri sendiri. Beranda masih kotor, rumah masih berantakan. Belum ada lagi mimpi, yang bisa aku bagi denganmu.”
― Titon Rahmawan
“Bukankah jauh lebih mudah menjadi diri sendiri daripada menjadi seperti orang lain, lalu mengapa banyak orang masih suka berpura-pura?”
― Titon Rahmawan
“Pada akhirnya, menulis itu adalah menemukan kembali apa yang pernah hilang, menghadirkan kembali apa yang sempat pergi, menggali apa yang sebelumnya terkubur, dan menghidupkan kembali apa yang semula mati.”
― Titon Rahmawan
“Guru yang bijak bahkan tidak menilai dan tidak menghukum. Karena nilai hanya bisa diperoleh dari sebuah kesadaran atas pencapaian murid itu sendiri. Apa artinya nilai, kalau tidak didapatkan dengan cara cara yang baik dan dari perjuangan yang tidak kenal lelah. Guru yang bijak mengajarkan, bahwa tidak ada hasil tanpa sebuah proses. Tidak ada kesuksesan yang sifatnya instan. Dan nilai bukanlah satu satunya tujuan. Dengan demikian, setiap murid menghargai perjuangannya sendiri dan mereka tidak merasa dikecilkan oleh pencapaian nilai yang buruk sepanjang mereka sudah menjalani prosesnya dengan sungguh sungguh. Belajar bukan untuk sekedar meraih nilai yang baik, melainkan belajar untuk mendapatkan pemahaman yang benar. Guru dihargai dari tauladan tauladan kebenaran dan kebajikan yang ia berikan untuk murid muridnya. Dan murid dihargai bukan atas dasar nilai ulangan atau ujian semata, melainkan berdasar atas kerja kerasnya. Sejauh mana, ia menjalani proses belajar untuk meraih pemahaman sejati. Dengan demikian, tidak ada lagi anak anak yang bodoh. Yang ada hanyalah, murid murid yang belum paham yang masih butuh bimbingan.”
― Titon Rahmawan
“Bagaimana mungkin seseorang dapat memperoleh berkat kebaikan sementara di saat yang sama ia memelihara pikiran, perkataan dan perilaku yang buruk?”
― Titon Rahmawan
“Sebab kebahagiaan itu seringkali tidak seperti apa yang orang pikirkan, bisa bekerja di negeri orang dan jauh dari rumah. Mereka mungkin saja melihat, betapa hebat dan luar biasa apa yang sudah aku lakukan untuk keluargaku. Tapi mereka tidak melihat, bagaimana aku harus berjuang sendirian di sini. Bangun pagi pagi membersihkan dapur, kamar mandi, mencuci piring, mengumpulkan dan lalu membuang sampah, mencuci pakaian, membersihkan perabotan, pergi belanja, memasak lalu melakukan ini itu menjalankan perintah majikan yang seolah tiada habisnya. Di saat saat seperti itu, aku berasa ingin segera balik pulang rumah. Rindu, teringat bapak, ibu dan saudara saudara yang aku cintai di kampung. Memikirkan kebahagiaan, yang entah kenapa justru aku tinggalkan demi bersusah payah di tempat yang jauh dan asing ini. Memikirkan setiap uang yang terkumpul dari hasil jerih payahku. Kebahagiaan keluarga yang harus aku tebus dengan cucuran keringatku.”
― Titon Rahmawan
“Tuhan ada dalam hembusan nafas para penulis. Tuhan ada dalam setiap goresan penanya.”
― Titon Rahmawan
“Banyak orang beranggapan rasa kehilangan yang terbesar adalah ketika kita kehilangan orang yang kita cintai, namun bagiku tak ada kehilangan yang lebih besar ketika seseorang kehilangan harkat atas dirinya sendiri”
― Titon Rahmawan
“Seorang bijak pernah menceritakan pada diriku kisah mengenai seorang bocah yang berusaha memasukkan sebuah labu besar ke dalam mulut sebuah kendi hingga kemudian kendi itupun pecah. Bertahun-tahun kemudian barulah aku menangkap makna kisah itu pada diri seorang pemalas pesimistis yang mengharap hidupnya lebih berharga dan bahagia tanpa pernah berupaya untuk mengubah dirinya”
― Titon Rahmawan
“Apalah arti imanmu, kalau engkau masih mencaci, memaki dan bahkan menghujat keimanan dan keyakinan orang lain”
― Titon Rahmawan
“Betapa sesungguhnya banyak di antara kita telah membiarkan serangkaian kegagalan dan deretan kekecewaan menghancurkan semua rencana kebaikan dan berkat yang datang dari tempat yang tidak pernah kita ketahui”
― Titon Rahmawan
“Bagaimana mungkin engkau dapat melihat hakekat kebenaran sejati kalau saat Ia menatap wajahmu engkau memalingkan muka, dan saat Ia mendatangimu engkau menolaknya? Betapa selama ini engkau mengeraskan hati dan membiarkan matamu terselubung oleh segala amarah, kebencian dan kedegilan.”
― Titon Rahmawan, Turquoise
“Ambisi mendorong manusia mengatasi semua bentuk kesulitan hidup dan sekaligus tikaman kebosanan.”
― Titon Rahmawan
“Seringkali kita terpaksa harus menerima hal-hal buruk terjadi, karena kesadaran kemanusiaan kita tak mungkin terus-menerus mengelak dari realitas hidup. Bukankah rasa sakit yang mengiringi setiap kesulitan dan penderitaan akan membuat kita menjadi lebih kuat?”
― Titon Rahmawan
“Adakah kupahami engkau di balik hijau sihir kata kata? Adakah kutangkap dirimu dalam misteri hitam sebait puisi?”
― Titon Rahmawan
“Kegagalan yang seringkali membayang bayangi seorang penulis adalah ketidak mampuannya memprioritaskan pengalaman dan keterlibatan emosional pembaca atas karya yang ia tulis di atas kepentingannya sendiri. Kagagalan terjadi tatkala sang penulis tak mampu melepaskan diri dari beban egoismenya untuk tampil dan menyuarakan dirinya sendiri. Cerita yang baik tidaklah demikian. Cerita yang baik menciptakan jarak antara jati diri si penulis dengan watak dan karakter tokoh tokoh yang ia ciptakan.”
― Titon Rahmawan
“Dongeng dan hikayat itu, anakku, itu tidak sekedar dituturkan atau dikisahkan. Ia ada bukan tanpa maksud. Sebagaimana ia kemudian membuktikan diri menjadi bagian dari sebuah tradisi. Ia telah mengukir peradaban. Dan baik ataupun buruknya telah teruji bersama perjalanan waktu. Sebagian dari dongeng dan hikayat itu hadir sebagai buah kesadaran manusia yang kemudian mengambil perannya sendiri. Di mana kehadirannya telah menjadi bagian dari budaya yang kemudian turut membentuk sebuah masyarakat. Ia bahkan melatari pemikiran para penulis, perawi dan juru dongeng di masa depan. Seperti juga semua karya sastra mutakhir yang tak mungkin lahir dan ditulis dari sebuah kekosongan. Bagaimanapun, manusia tak mungkin menghapus ingatan dari masa lalu, sebagaimana sejarah kemudian mencatat dan membuktikan.”
― Titon Rahmawan
“Pada saat seorang penulis mengabaikan pembacanya dan hanya fokus pada dirinya sendiri atau pada kepuasan estetiknya sendiri. Itu sama saja mengingkari tujuan mulia, bahwa sebuah karya harus ditulis dengan sebentuk kepedulian dan bukannya sekedar upaya untuk mendapatkan orgasme pribadi lewat cara masturbasi.”
― Titon Rahmawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  ~ Jangan lempar batu sembunyi tangan ~ "Jangan mencari pembenaran dengan cara membuka aib orang lain hanya demi menutupi aib diri sen...