“Kamu minta dipahami dan dimengerti tapi sikapmu tidak menunjukkan sesuatu yang membuat orang harus bersimpati pada dirimu. Sehingga yang muncul justru kemarahan, kekecewaan dan penolakan. Itulah sebabnya kenapa sikapmu justru berbalik menyerang dirimu sendiri." Ia masih mengoceh panjang lebar dan aku hanya bisa diam. "Percayalah, dengan cara seperti itu kamu tak akan dapat apa apa. Kamu akan dijauhi dan ditinggalkan. Kamu pelihara amarahmu dan kekecewaanmu, maka kami akan pergi. Karena kami tak bisa tinggal dalam tubuh yang penuh dengan amarah dan kebencian.”
― Titon Rahmawan
“Tapi kadang dia bisa juga lembut, "Kalau kamu memberi sesuatu yang tidak ternilai. Percayalah, kembalinya kepadamu juga bakal tidak ternilai. Ketika kamu memberi dan kamu tidak memikirkannya. Kamu melakukannya begitu saja sebagai dorongan niat yang tulus. Bukankah itu juga memberimu kebahagiaan? Sesederhana itu. Apa yang kamu beri, bakal kamu terima kembali. Saat kamu terpanggil, kamu memberi prioritas. Kamu tahu, apa artinya itu buat kami, Honey.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Aku tahu, tidak ada seorang pun yang akan merendahkanku. Tidak ada seorang pun yang melihatku tidak berharga. Seperti yang Scott ucapkan. Justru, karena aku berani menentukan pilihan, dan aku berani menyatakan sikap. Apa yang aku rasakan itulah yang terpenting. Aku tidak menggantungkan hidupku pada apa yang orang lain pikirkan. Siapa yang bisa merenggutkan kegembiraan itu dari diriku? Mereka hanya mungkin mengirikan kebahagiaanku dan cemburu pada keberuntunganku karena aku lebih dicintai. Walaupun menurut mereka aku tidak sepadan karena aku tidak berharta, tidak berpangkat dan tidak memiliki sesuatu yang pantas untuk aku banggakan. Mereka tahu, bukan semua itu yang membuatku lebih baik dan lebih berharga. Mengapa Tuhan membuat hidupku lebih bermakna, sebab aku tidak mengukur kebahagiaan dari apa yang aku miliki saat ini. Melainkan dari apa yang bisa aku berikan untuk orang lain. Dan tidak ada pemberian yang lebih berarti selain daripada cinta, perhatian dan kasih sayang itu sendiri.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Di angkringan malam itu, kita tak duduk berhadapan tapi bersisian. Kau bilang tak ingin difoto, karena merasa lagi jelek. Namun bagiku, kau selalu memesona seperti biasa. Meskipun langit sedikit mendung, meskipun cuma cahaya lampu senthir yang remang remang menerangi wajahmu. Malam mulai beranjak tua dan ada gurat usia yang makin menebal di wajah kita. Namun aku merasa, selalu ada cinta yang sama untukmu, yang aku tahu tidak akan pernah berubah.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Percayalah, kecantikan sejati bukanlah seperti yang terlihat. Kecantikan sejati ada pada apa yang orang tidak lihat dengan mata telanjang, tapi entah bagaimana mereka bisa merasakannya. Perasaan yang menyentuh, yang mungkin sederhana dan tidak berlebihan tetapi terasa menakjubkan. Seperti hembusan angin sejuk. Sentuhan tangan yang lembut, hati yang selalu gembira. Senyuman yang menggetarkan hati, dan tatapan mata teduh yang tidak akan pernah terlupakan. Semua yang malam itu, aku rasakan ada di dalam dirimu.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Bagaimana ia bisa mencintai diriku sebegitu rupa. Bukan atas apa yang orang lihat pada diriku. Pada rupa pesona kecantikan yang lugu, polos dan sederhana ini. Pada kecerdasan yang alami, atau kebaikan hati, atau keceriaan yang tidak pernah dibuat buat. Tapi, bagaimana ia bisa merasakannya? Seperti sejuk embun yang mengecup keningnya di waktu subuh. Kehangatan mentari yang bersinar menembus punggung bukit, rimbun dedaunan, dan menembus kisi kisi jendela. Ditingkah riuh suara burung dan kokok ayam jantan menyambut pagi. Perasaan yang barangkali hanya dia yang tahu. Serupa rasa haus yang hanya mungkin terobati oleh kehadiran senyum yang tulus. Yang tidak menjanjikan apa apa, selain daripada cinta dan mungkin juga keabadian. Itulah yang kemudian dinyatakannya padaku lewat sebuah puisi, "Sekiranya kau ijinkan aku mencintai empat orang sekaligus, maka orang itu adalah dirimu, dirimu, dirimu dan dirimu.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Melihatnya duduk, terpekur sendirian di atas kursi besi tempa di pinggiran jalan yang nyaris lengang itu telah jadi momen yang tak akan pernah aku lupakan. Sebab saat itulah, hatiku tersentuh oleh pesona kecantikan yang alami. Bukan oleh karena seri wajahnya atau anggun gerak gerik tubuhnya, melainkan oleh apa yang tak tertangkap oleh mata namun mampu menggetarkan hati. Pada saat itulah, entah untuk keberapa kali, aku merasakan lagi perasaan yang dulu pernah aku rasakan. Bagaimana aku jatuh cinta kepadanya untuk pertama kali.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Hidup terentang antara lahir dan mati. Jarak, hanya sebatas sehembus nafas.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Uang tak pernah seburuk yang kita kira. Ia merupakan sumber berkat di tangan seorang penderma yang tulus, dan batu pengasah agar orang menjadi arif. Kebijaksanaan seseorang tidak bergantung pada seberapa banyak yang mungkin ia dapatkan, melainkan pada seberapa banyak yang mungkin ia berikan.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Penderitaanku yang paling utama adalah kemelekatanku pada dunia ini. Namun bukan dunia yang menjadi sumber penderitaan itu melainkan kelemahan jiwaku sendiri.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: penderitaan
“Aku tak bisa mengingkari apa yang aku rasa dan apa yang aku pikirkan. Persis seperti yang Scott bilang padaku, "Pada saat kamu menampilkan sisi dirimu yang paling rentan, saat itulah kelemahanmu muncul. Sudah aku bilang berkali kali, jangan bawa bawa perasaan. Saat kau menjadi Ajeng yang sensitif, naif dan bodoh kau kehilangan semua simpati dan pesonamu. Saat ada amarah, rasa kecewa, sedih, sakit hati yang datang menghampirimu, kamu bisa segera rasakan, bagaimana jiwamu terombang ambing oleh kelemahan. Orang akan melihatmu sebagai pribadi yang kontradiktif, yang tidak ramah dan tidak menyenangkan. Sehingga mudah sekali buat mereka melupakan Dee yang penuh energi vitalitas, keceriaan, kegembiraan, positif, kreatif, cantik, memesona, sensual, menggoda, ramah dan baik hati....”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Aku bilang kamu nggak cerdas menyikapinya" begitu Scott menanggapi keluhanku, "Karena kamu tidak jadikan dia istimewa. Ini soal apa yang kamu beri dan apa yang kamu harap akan related pada apa yang akan kamu terima. Jadi pikirkanlah hal itu. Kalau kamu perlakukan dia istimewa, ya kamu akan lihat bagaimana ia akan memperlakukan dirimu.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Aku baca lagi tulisan Scott, "Kamu mengharap sesuatu dan kamu kecewa saat tidak mendapatkannya. Coba kalau kamu tidak mengharap apa apa kamu justru tak terbeban apapun" Dan sekali lagi dia benar. "Esensinya adalah memberi dan tidak menuntut, tulus dan tak punya pamrih, ikhlas dan tidak memaksa. Ia memberimu ruang untuk terbang dengan bebas dan leluasa. Tidak memenjarakanmu dengan gagasan dan idenya sendiri. Tidak mengungkungmu dalam kebebalan hasrat dan kecemburuan yang membabi buta, atau dalam sikap posesif dan egoisme sempit. Ia memberimu tempat untuk bertumbuh, ruang untuk bercermin dan menjadikan seluruh waktumu berharga. Sehingga, tidak akan ada lagi satu perkara pun yang sia sia.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Rahasia cinta itu sebenarnya sederhana," ucap papa padaku, "Berusahalah menjadi orang yang tepat bagi orang yang kamu cintai. Ketika kamu berusaha untuk menjadi orang yang tepat, maka kamu tak lagi memikirkan dirimu sendiri. Kamu curahkan energimu sepenuhnya untuk membuat orang yang kamu cintai itu merasakan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan ketika seseorang merasa bahagia, maka tanpa ia sadari ia akan terikat kepadamu. Sebab di mana ada kebahagiaan di situlah cinta bertumbuh. Di mana ada cinta di situlah kebahagiaan bersemi. Di dalam keajaiban cinta itulah kebahagiaan besemayam. Dengan memberi, maka kamu akan menerima. Semakin banyak kamu memberi, sebanyak itu pulalah kamu akan menerima. Jadi, jangan beri ia alasan untuk menyakitimu, untuk menolakmu atau bahkan meninggalkanmu. Namun sebaliknya, beri dia alasan mengapa ia harus mencintaimu setiap hari, setiap saat. Sebab cinta itu mesti diperbaharui dari waktu ke waktu. Agar dengan demikian, posisimu di dalam hatinya tidak akan pernah tergantikan”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: rahasia-cinta
“Lha ya, mana ada orang yang punya keinginan jadi pelacur Rud? Sekalipun misalnya orang masih bisa memilih, tapi ya tetap saja, mana ada orang yang sengaja mau jadi pelacur?”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Namun berhati hatilah, cinta bisa menjadi sesuatu hal yang menyakitkan ketika kita menjadi terlampau terikat. Ia berubah menjadi posesif, pencemburu buta dan bahkan pendendam. Ia menjadi egois. Ia melupakan esensi utama dari cinta yang sesungguhnya. Ia tak lagi mau memberi. Ia semakin menuntut. Dan ketika ia tak lagi mendapatkan apa yang ia inginkan, maka ia justru akan kehilangan segala galanya, termasuk cinta itu sendiri.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: cinta-posesif
“Kekikiran tidak akan membuat orang menjadi lebih kaya, dan ketamakan tak akan pernah membuat orang menjadi lebih dihargai.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: kikir-dan-tamak
“Penyakit jiwa kita yang paling utama adalah kehendak kita yang berlebihan atas dunia ini”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: kemelekatan
“Bagaimana aku dapat mencintai hidup, bila aku melihat dunia dari sudut pandang seorang pecundang?”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Ketahuilah, cinta tidak cuma melihat pada apa yang indah. Mengalami apa yang baik dan menyenangkan. Cinta tidak selalu seperti itu. Justru ia diuji ketika segala sesuatu tidak lagi terlihat indah, tidak lagi terasa baik dan menyenangkan. Pada saat serupa itulah, kita akan menangkap dan memahami hakekat cinta yang sesungguhnya.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Kamu salah kalau berpikir, bahwa cinta itu tentang dirimu sendiri, pukau dari pesona yang kamu tangkap sekilas. Apa yang membuatmu terperangkap dalam ilusi dan angan-angan. Apa yang membuatmu terlelap di dalam mimpi. Cinta itu tak selalu cantik dan menyenangkan. Ia kadang kasar, keras hati dan menyakitkan. Tapi justru di situlah letak esensinya. Ini bukan semata mata tentang dirimu. Sebab cinta tak pernah sendiri. Ia bisa saja sunyi, namun ia tak pernah sendiri.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Jika hidup ini sungguh-sungguh nyata, benak kita tak akan terganggu oleh begitu banyak keragu-raguan. Akan tetapi, bila ia hanya sekadar ilusi, lalu apa arti hidup yang sesungguhnya?”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Suara kebajikan tak akan pernah mampu menyentuh pikiran yang bebal betapa pun keras kebajikan itu berteriak. Tak ada yang mampu membuatnya tersadar, kecuali kesadaran itu tumbuh dengan sendirinya hingga mampu melumerkan kebekuan dalam hatinya dan membuatnya belajar untuk mendengarkan suara orang lain.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: suara-kebajikan
“Dari semua peran di dalam harkat kemanusiaan, peran ibulah yang paling penting.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
tags: ibu, peran-kemanusiaan
“Seperti kendi berisi air yang bisa menghilangkan dahaga semua orang yang lewat. Menurutku, tidak ada kebahagiaan serupa itu. Kebahagiaan karena dibutuhkan, kebahagiaan karena dicintai, karena rasa syukur, karena tidak ada yang lebih berharga selain daripada sebuah pemberian yang tulus. Sebuah pemberian yang tidak mungkin ditolak.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Ketahuilah, kita tak memiliki cukup kekuatan untuk membelenggu hasrat, keinginan, tubuh dan pikiran orang lain. Sekalipun mereka adalah anak anak yang lahir dari rahimmu sendiri. Kita tak bisa selalu mendiktekan apa yang kita mau. Apalagi, pada orang orang yang kita cintai. Kamu tak bisa mencintai dan sekaligus memenjarakan jiwanya. Sebaliknya, cintamu semestinya memberi mereka kebebasan. Biarkan mereka terbang sesuka hatinya, meraih apa yang mereka mau, menemukan apa yang mereka cari. Dengan demikian, mereka akan menemukan jati diri mereka sendiri. Bukan sekedar imitasi atau tiruan dari apa yang kamu diktekan. Tapi sejauh apapun mereka pergi, biarkan mereka tahu, hati dan jiwamu adalah rumah yang sesungguhnya bagi raga dan juga jiwa mereka. Sehingga, setelah mereka lelah bertualang, maka mereka tahu kapan harus pulang dan kemana harus pulang. Sebab kemana pun raga mereka pergi, pikiran mereka tak akan pernah bisa menghapuskan kerinduannya akan dirimu.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Ini situasi psikologis yang mungkin tidak disadari oleh kebanyakan orang. Pada saat seseorang menginginkan atau mengharapkan sesuatu, ia hanya berpikir untuk dirinya sendiri. Namun ketika keinginan itu tidak tercapai, maka dengan mudah ia akan jatuh ke dalam kekecewaan. Tapi seandainya ia berpikir dengan perspektif yang berbeda, coba bayangkan hal apa yang bisa kita lakukan atau berikan untuk membuat orang lain gembira, merasa lebih baik dan kita melakukan semua itu dengan ikhlas, maka tidak ada kekecewaan yang akan datang menghampiri. Tidak ada sedikit pun keraguan tentang hal itu, karena siapa orang yang hendak menolak sebuah pemberian yang tulus? Ketika kita meletakkan segala pengharapan pada diri sendiri, pada pikiran yang cenderung egois, maka bersiaplah untuk menghadapi penolakan yang akan melahirkan kekecewaan. Namun bila kita melakukannya untuk orang lain. Dengan spirit memberi, maka berkah kebahagiaan akan mengganjar keikhlasan hatimu dengan berkali lipat.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Banyaknya kesibukan seringkali membuat kita lupa bahwa ada banyak hal yang jauh lebih penting dari sekadar kesibukan itu sendiri.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
“Aku tidak menghindari apa pun. Aku mencoba, aku mencari dan aku berusaha. Kadang menemukan, kadang tidak. Kadang berhasil, namun lebih sering gagal. Ada banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Tapi aku tidak berhenti. Kalau pun harus berhenti, hanya untuk memastikan bahwa aku akan tetap baik baik saja. Aku menikmatinya. Perjalanan ini, betapa pun berat selalu ada sisi yang menyenangkan. Apa pun yang sudah aku lalui, tak akan membuatku surut. Yang aku tahu pasti, aku merasa bahagia.”
― Titon Rahmawan
― Titon Rahmawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar