Jumat, 22 Desember 2023
KH. ABDUL DJALIL (bin Kiai Fadlil bin Sulaiman bin Ahsan bin Zainal Abidin Bujuk Cendana) DIMANTU KIAI NAWAWI SIDOGIRI
Minggu, 05 Maret 2023
SETIAP ORANG HANYA MENDAPATKAN YANG DIA NIATKAN.
Didalam beramal ibadah,
janganlah bergantung pada persepsi bahwa : “Allah Maha Tahu.., maka meski kita
beramal tanpa niat atau salah niat, karena Allah Maha Tahu jadinya ndak akan
salah dan ndak jadi masalah”
Itu adalah persepsinya orang yang
tak berilmu dan melakukan ibadah tanpa didasari dengan ilmunya.
Kalau dalam shalatnya seseorang
meniatkan untuk shalat qabliyah subuh, maka shalat dua rakaat yang dilakukan
adalah shalat qabliyah subuh.
Artinya kewajiban shalat subuh
hari itu belum dia lakukan.
Berarti dia wajib untuk bangun dan
shalat dua rakaat lagi dengan niat shalat subuh.
Begitu juga kalau seseorang shalat
empat rakaat dengan niat shalat ashar, maka yang dia dapatkan adalah pahala
shalat ashar.
Demikian juga kalau seseorang
mandi dengan niat bersih-bersih saja, maka hanya itu yang dia dapatkan.
Apabila ada orang yang memiliki
kewajiban mandi wajib, kemudian dia mandi tapi dia lupa bahwa dia memiliki
kewajiban untuk mandi wajib.
Kemudian dia mandi seperti biasa
tanpa ada niat dalam hatinya untuk mengangkat hadats, maka mandinya itu tidak
terhitung sebagai mandi yang menghilangkan hadats besarnya.
Jika dalam ibadah kita, kita
niatkan untuk Allah, maka insya’Allah itu yang akan kita dapatkan.
Yaitu pahala disisi Allah subhanahu
wa ta’ala.
Sebaliknya, kalau kita sudah lelah
dalam menjalankan ibadah, tapi kita salah niat.
Maka jangan salahkan siapa-siapa
saat kita berjumpa dengan Allah, ternyata kita tidak mendapatkan pahala ibadah
yang sudah kita lakukan di dunia.
Hal ini ditegaskan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam potongan haditsnya.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sebuah
contoh.
Dimana ada dua orang yang
beribadah dengan ibadah yang sama namun yang mereka dapatkan ternyata berbeda.
Disini kita melihat ada dua orang
yang sama-sama hijrah.
Yang pertama mendapatkan pahala
besar disisi Allah subhanahu wa ta’ala, sementara yang lain tidak
mendapatkan pahala besar itu bahkan bisa jadi dalam beberapa kasus karena salah
niat seseorang bisa disiksa oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Sabtu, 25 Februari 2023
Kata Mbah Kyai Mahrus Ali Lirboyo
مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًاأَبَدً ، عَلَى حَبِيْبِكَ
خَيْرِاْلخَلْقِ كُلِّهِمِ
MAULAYA SHOLLI WASALLIM DA'IMAN ABADA ALA HABIBIKA KHOIRIL KHOLQI KULLIHIMI
Ya Tuhanku, curahkanlah selalu rahmat dan salam sepanjang masa, kepada Kekasih-Mu yang terbaik dari seluruh makhluk.
هُوَ اْلحَبِيْبُ الَّذِىْ تُرْجَ شَفَاعَتُهُ ، لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ اْلأَهْوَالِ مُقْتَحَمِ
HUWAL HABIBULADZI TURJASYAFA'ATUHU LIKULLI HAULIN MINAL AHLI MUKTAHIMI
Dialah Sang Kekasih yang syafaatnya senantiasa dinanti, dalam menghadapi segala derita dan malapetaka yang menerpa.
يَارَبِّ بِاْلمُصْطَفَى بَلِغْ مَقَا صِدَنَا ، وَغْفِرْلَنَامَامَضَى يَاوَاسِعَ اْلكَرَمِ
YA ROBBIBIL MUSTHOFA BALIGMAQO SIDANA WAGHFIRLANA MAMADO YA WAASI'AL KAROMI
Ya Tuhanku, dengan kedudukan Al Musthofa Shallahu Alaihi Wasallam, kabulkanlah segala maksud-maksud kami, dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Tuhan kami Yang Maha Luas Kemurahannya.
Wallahu'alam.
Maka dari itu setiap selesai majelis kami para santri selalu membacanya.
HAKIKAT JALAN SUFI DARI SYEKH ABU HASAN ASY-SYADZILI
Menurut Imam Asy-Syadzili, jalan tasawuf itu bukanlah jalan kerahiban, menyendiri di goa, meninggalkan tanggung jawab sosial, tampak miskin menderita, memakan makanan sisa, pakaian compang-camping dan sebagainya. Tetapi, jalan sufi adalah jalan kesabaran dan keyakinan dalam petunjuk Ilahi.
Allah SWT berfirman, Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar (dalam menegakkan kebenaran) dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya. (QS As-Sajadah [32]: 24-25)
Imam Asy-Syadzili mengatakan, "Pelabuhan (tasawuf) ini sungguh mulia, padanya lima perkara, yakni: sabar, takwa, wara, yakin dan makrifat. Sabar jika ia disakiti, takwa dengan tidak menyakiti, bersikap wara terhadap yang keluar masuk dari sini beliau menunjuk ke mulutnyadan pada hatinya, bahwa tidak menerbos masuk ke dalamnya selain apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, serta keyakinan terhadap rezeki (yang diberikan Allah) dan bermakrifat terhadap Al-Haqq, yang tidak akan hina seseorang bersamanya, kepada siapa pun dari makhluk.
Allah SWT berfirman, Bersabarlah (Hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS An-Nahl [16]: 127-128)
Orang yang berakal adalah orang yang mengenal Allah, apa-apa yang Dia kehendaki atasnya dan apa yang berasal darinya secara syariat. Dan, hal yang Allah inginkan dari seorang hamba adalah empat perkara: adakalanya berupa nikmat atau cobaan, ketaatan atau kemaksiatan.
Jika kau berada dalam kenikmatan, maka Allah menuntutmu untuk bersyukur secara syariat. Jika Allah menghendaki cobaan bagimu, maka Dia menuntutmu untuk bersabar secara syariat. "
--Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili, Durrat Al-Asrar wa Tuhfat Al-Abrar, Muhammad Ibnu Abi Qasim Al-Humairi
Menyebarkan atau menyampaikan ilmu bagus bahkan wajib
Hal ini juga sebagaimana dijelaskan oleh imam mushtofa al bakri dalam nadhom beliau ;
يشير في كتم علوم القوم # من كل سكران بخمر النوم
Beliau (para kekasih allah) mengajarkan kepada kita untuk pandai pandai menyimpan atau merahasiakan ilmu (rahasia) beliau, dari mereka yg sedang mabuk dengan tidur nyenyaknya (masyarakat awam).
Hal ini juga sebagaimana sering didawuhkan (dipesannkan) oleh imam junaid al badhdadi kepada imam syibli :
لا تفش سر الله تعالى بين المحجوبين
Awas sibli saya pesan berkali kali ini, jangan sampai kau buka (sebar luaskan) rahasia allah pada mereka yg terhijab (maysrakat awam).
Fenomena saat ini sering kali tidak sesuai apa yg dipesankan oleh salafus sholeh. Banyak chanel youtube menyampaikan kajian tasawuf yg mestinya tidak dikonsumsi orang awam, namun g bisa nyalahin seratus persen yg seperti ini, sebab hal ini kadang sengaja dilakukan karena orang orang awamnya pada males datang ke majlis ta’lim secara langsung, ahirnya jadi rancu.
Dalam kajian kitab bulan ramadhan maulana habib luthfi sudah mencotohkan hal ini, kenapa beliau tidak berkenan ditayangkan live, hal ini tidak lain disebabkan tidak jarang didapati ilmu ilmu yg tidak semestinya dikonsumsi oleh masyarakat secara umum.
Ada banyak group thoriqoh di medsos, dan tidak sedikit ditemukan tanya pembahasan ilmu yg dhakik dhakik (pembahasan tingkat tinggi bin jlimet disana) ahirnya ada satu peserta jawab, satunya jawab dengan jawaban beda dan seterusnya. Gini ini yg tanya sama yg jawab sama gobloknya, mestinya kalau memang murid thoriqoh tanya ke gurunya bukan malah tanya di medsos yg merupakan ranah publik. Apalagi terkait ilmu yg khos
Terima Kasihku untukmu Mursyidku
.
.
.
cr. @ikhwansyadziliyah
اَللَّــهُمَّ صَلِّ عَـلـٰى سَـيِّـدِنَـا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَـبِـيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّـيِّ وَعَــلـٰى أَلِـهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا بِقَدْرِ عَظَمَةِ ذَاتِكَ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ
Rabu, 22 Februari 2023
Kalo' mau baca alqur'an, sholawatan, pujian-2 atas
keagungan Allah, doa, ato apapun itu yang berbahasa arab.., sebaiknya
dipelajari dulu dengan teliti, jangan sampai salah pengucapan harakat apalagi
sampai salah pengucapan hurufnya, karena kesalahan itu bisa jadi akan sangat
fatal, apabila arti ato maknanya berbalik kepada hal yang buruk, terlebih dalam
mengagungkan Allah dan kalimat tauhid, itu bisa berdampak kufur bahkan bisa
murtad. Na'udzubillah min dzalik..
Misalkan kalimat إلَى يَوْمِ الْآخِرَةِ
yang artinya "sampai hari qiyamat", lalu diucapkan dengan إِلَّا يَوْمِ الْآخِرَةِ yang bermakna
"kecuali hari qiyamat", itu jelas jauh berbeda dan mengandung arti
pengecualian.
makanya hati-hati, jangan sembrono dan asal-asalan.
kemudian mengucapkan ﷲُ أَكْبَر
yang artinya mengagungkan Allah, lalu diucapkan dengan kalimat ﷲُ أَكْبَار yang perbedaannya hanya memanjangkan huruf
بَا nya, kelihatannya seolah sepele, akan
tetapi maknanya bisa bikin murtad, karena merubah kalimat yang menggungkan
Allah menjadi kalimat yang mengolok Allah, dengan arti/makna (maaf) 🙏"Allah itu gendrang".
yang seperti ini justru akan berdampak kemurtadan kepada
Allah Ta'ala.
Na'udzubillah min dzalik..
Allah Tidak Merubah Keadaan Suatu Kaum Sampai Mereka…???
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟
مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum,
sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. {Qs. Ar-Ra’d
[13] : 11}
Secara gamblang.., kalo’ kita tidak mempelajari detail
makna ayat ini, maka kita akan mempunyai persepsi bahwa :
“Diri kita sendiri-lah yang mampu merubah keadaan kita ..!!!”
Contoh pemahamannya jadi seperti ini :
“kalau saya mengubah diri saya, maka saya pasti bisa
berubah !”
Kalo’ benar seperti itu..,
Lantas Allah Ta’ala sebagai pemegang murni ketentuan alam
semesta ini, kamu kemanakan.. ???
Seolah-olah usaha sendiri lebih dominan daripada ketentuan Allah
yang Maha Kuasa.
Dimana peran Allah-nya, kalau begitu ?!
Kita hanya mengubah diri sendiri aja, cukup !! Pasti
berhasil.
Allah sih ngikutin aja.. gitu maksudnya ?!!
Sedangkan disisi lain, ada Hadits Rasul Saw yang jelas
disabdakan disitu, bahwa :
“Sesungguhnya Tuhanku berkata kepadaku : Wahai Muhammad !,
Sesungguhnya Aku [Allah] kalau sudah menentukan sesuatu, maka tiada seorang pun
yang sanggup menolaknya”. (H. R. Muslim).
Dihadits ini jelas, bahwa Allah lah yang mendominasi
kehidupan ini, baik dunia maupun akhirat, menunjukkan kalo’ ketentuan-NYA yang
tak bisa diganggu gugat.
.
.
Ngaji terus.., ngaji lagi.., ngaji maning.. !!!
Jangan pernah berhenti Ngaji atau mencari dan
memperdalam ilmu agama islam, terlebih ilmu alQur’an dan
Hadits.
.. .. .. ..
Allah Tidak Mengubah Keadaan Suatu Kaum
Sampai Mereka…?
SALAH SATU penggalan ayat yang paling aneh dan janggal buat
saya, adalah Qur’an Ar-Ra’d : 11, yang kerap diterjemahkan,
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum
sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. [13] : 11
Di ayat itu sangat janggal: usaha sendiri lebih dominan
daripada kehendak Dia yang Mahakuasa. Di mana peran Allahnya, kalau begitu?
Kita hanya mengubah diri sendiri saja, cukup. Pasti berhasil. Allah sih
ngikutin aja.
Di sisi lain, ada hadits riwayat muslim,
“Sesungguhnya Tuhanku berkata padaku: Wahai Muhammad!
Sesungguhnya Aku kalau sudah menentukan sesuatu maka tiada seorang pun yang
sanggup menolaknya”. (H. R. Muslim).
Di hadits ini, jelas ‘dominasi’ Dia. Keperkasaan Dia, Dia
yang tak bisa diganggu gugat. Kok, nggak klop?
Sampai suatu hari, saya dan teman-teman diajari membongkar ayat tersebut oleh
guru saya. Ayat aslinya adalah,
“Innallaha la yughayyiru ma bi qoumin, hatta yughayyiru ma
bi anfusihim.”
Terjemahan real-nya, bukan interpretatif, adalah:
“Sesungguhnya Allah tidak merubah ‘apa-apa/keadaan yang ada
pada suatu kaum’ (ma bi qoumin), hingga mereka mengubah
apa-apa/keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka (ma bi anfusihim).’
Itulah masalahnya. Terjemahannya. ‘Apa-apa yang ada/keadaan
yang ada pada jiwa-jiwa mereka’, diterjemahkan jadi ‘keadaan diri mereka
sendiri’.
Itulah sebabnya, pemahamannya jadi, ‘kalau saya
mengubah diri, maka saya bisa!’. Padahal artinya adalah, ‘Kalau
saya mengubah jiwa saya, maka Allah pun akan memperbaiki keadaan/kondisi saya’.
Nafs, adalah ‘jiwa’. Jamaknya, anfus. Jiwa-jiwa.
Apa itu ‘apa-apa yang ada pada jiwa’, atau ‘keadaan jiwa’
yang harus diubah, sehingga Allah berkenan mengangkat kita?
Apa-apa yang ada pada/bersama jiwa (bi anfus), adalah hawa
nafsu.
Keadaan jiwa, adalah jiwa yang masih dalam tingkat keadaan
‘jiwa yang mengajak pada keburukan’ (nafs ammarah bis su’) atau ‘jiwa yang
terombang ambing antara perbuatan dan penyesalan’ (nafs lawwamah), diangkat
naik menjadi jiwa yang tinggi, jiwa yang tenang (nafs mutma’innah).
Nah. Sejak itu, ayat itu jadi makes sense. Klop. Kalau kita
memperbaiki kondisi jiwa kita dan hawa nafsu kita, tentu saja Allah akan
memperbaiki kita sebagai insan. Pendeknya, kalau kita mau berubah, kita cukup
berurusan dengan hawa nafsu kita, dan Allah akan memperbaiki seluruh semesta
insan kita yang lainnya. Lahir dan batin. Just change your hawwa-nafs, and He
would take care of all others.
Eureka, deh. Malah semakin terlihat betapa Maha Pemurahnya
Allah pada hamba-hamba yang bertaubat, kan?
Terjemahan bahasa Inggris malah agak lebih pas: //”Indeed,
Allah will not change the condition of a people until they change what is in
themselves.”//
Nah. Change ‘what is in themselves’.
Jadi, sekali lagi, arti ayat itu bukan, ‘kita usaha, maka kita
bisa’. Makna yang ‘meleset’ ini biasanya cenderung dieksploitasi secara tidak
pada tempatnya, seperti untuk keuntungan-keuntungan jangka pendek. Tapi, maksud
ayat itu adalah ‘ubahlah kondisi jiwa kita (agar tidak lagi terbelenggu
hawa nafsu), maka Allah akan mengubah keadaan kita’.
-----------------------------
KE MANA KEMBALINYA DHOMIR HA' DALAM "يا الله بها يا الله بحسن الخاتمة" ?
Redaksi dzikir يا الله بها يا الله
بحسن الخاتمة dapat ditemui dalam Ratib (kumpulan dzikir) Al Athas juga ada
di Ratib Al Haddad selain itu juga sering dibaca dalam penutup mahallul qiyam,
namun yang tidak banyak diketahui dan dipahami adalah dhomir ها dalam redaksi kembali ke mana ?
Saya terus penasaran setiap kali melafalkan redaksi ini,
tentunya dzikir akan beda rasanya antara dipahami maknanya dengan tidak.
.. .. .. ..
Setelah agak lama penasaran akhirnya saya menemukan
jawabannya di kitab "Al Qirthos Syarh Ratib Al Atthas" karya Al Habib
Ali bin Hasan Al Atthas pada juz 2 halaman 258 di catatan kakinya disebutkan
bahwa dhomir ها dalam redaksi dzikir
kembali pada حسن الخاتمة (lihat gambar).
Sehingga kedudukan dhomir ها
sebagai mubdal minhu dari badal حسن الخاتمة,
hal ini dibolehkan sebagaimana dikatakan oleh ibnu malik dalam bait alfiyah :
كزُرْه خالدا وقبِّلْه اليدا ** وعرِفْه حقه وخُذْ نَبْلا مدى
Pada bait di atas dhomir pada زره
kembali ke خالدا.
Sehingga kalau diterjemahkan kurang lebih :
"Ya Allah (tutuplah hidupku) dengan husnul
khatimah"
.
.
Apabila kita gemar berdzikir, tentunya dzikir akan
terasa sangat berbeda rasanya, antara dipahami
maknanya dengan hanya asal mengucap saja, tetapi
tidak tau maksudnya.
.
.
Wallahua'lam.
لا تكره شيئا اختاره الله لك
!
فعلى البلاء تؤجر.., وعلى المرضى تؤجر..,
وعلى الفقد تؤجر.., وعلى الصبر تؤجر..,
فرب الخير لايأتي إلا بخير..
Janganlah engkau membenci segala yang telah
Allah takdirkan kepadamu.
Diatas segala musibah, sakit dan kehilangan itu
akan diberikan ganjaran oleh Allah Ta’ala,
bahkan bersabar itu sendiri juga akan diganjarkan.
Niscaya kebaikan tidak akan mendatangkan
kecuali kebaikan pula.
Musibah, Sakit, Kehilangan, Sabar,
dan semacamnya..
Sejatinya itu adalah kebaikan
dari Allah yang akan mendatangkan
ganjaran tersendiri bagi
orang-orang yang menerimanya dengan
keikhlasan hati, dibalik itu
semua juga ada derajat yang tinggi disisi
Allah Ta’ala.
Akan tetapi.., sedikit sekali
dari kita yang memahami itu semua.
Bahkan didalam alQur’an pun,
kalimat “Kesulitan” dan “Kemudahan”
letaknya sejajar berdekatan.
Itu pertanda bahwa dibalik
kesulitan pasti akan ada kemudahan.
Terkadang suatu kesulitan
menghampiri kita yang menyebabkan kita
menangis bahkan menitikkan rasa
sakit yang mendalam, akan tetapi
kita harus mencoba untuk
menguatkan diri dengan ayat ini :
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ
يُسْرًا , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
yang pada akhirnya nanti pasti mendapatkan
ketenangan yang sempurna,
bahkan kepada perkara yang
sangat mencekam sekalipun kita harus
kuat dan tersenyum, karena kita
yakin bahwa setelah kesulitan itu pasti
akan ada kemudahan yang lebih
banyak.
Sesungguhnya setiap kesulitan
pasti ada kemudahan. Allah mengulang
ini pada ayat selanjutnya, agar
semakin menguatkan bahwa siapapun
yang memiliki kesulitan harus
meyakini bahwa Allah akan segera memberi
kemudahan, ini adalah janji dari
Allah Ta’ala. Tinggal kita mengoreksi diri,
sekuat apa keyakinan dan
keimanan kita kepada firman-firman Allah yang
mungkin sering kita baca
berulang kali didalam alQur’an, bahkan sampai
ada diantara kita yang
melazimkan bacaan surat/ayat ini sebagai amalan
dzikir/wirid ataupun dibacanya
dalam setiap rakaat pada sholat ‘isya, atau
bahkan ada yang
menggandengkannya dengan surat alfalaq, mengambil
fadlilah dengan niat
mengharapkan kekayaan dunia. Amalan yang
seperti itu sah-sah aja, karena
tetap menggantungkan diri kepada Allah,
tidak ada kesyirikan didalamnya
meski yang diharapkan adalah dunia.
.
.
.
{ OnstOrytelling - NgajiSekyoo..
}
~ Jangan lempar batu sembunyi tangan ~ "Jangan mencari pembenaran dengan cara membuka aib orang lain hanya demi menutupi aib diri sen...
-
PERBEDAAN MASJID, MUSHOLA, SURAU DAN LANGGAR RUMAH-MUSLIMIN.COM - Masjid, mushola, surau, dan langgar adalah tempat-tempat ibadah umat Mu...
-
"إذا فسدت البيئة فلا بد للإنسان أن يحتمي بعلمه وعقله لينجو من الفساد" "Ketika lingkungan tidak lagi mendukung untuk menjadi ...






