[ MELURUSKAN PEMAHAMAN TENTANG MENCARI ILMU / MENGAJI ]
“Menuntut ilmu itu adalah suatu
amal ibadah yang paling mulya, tetapi juga paling sulit.
Karena itulah.., yang
namanya “MUSYAWARAH” disini
lebih penting dan diharuskan pelaksanaannya.
وينبغى لطالب العلم أن لا يختار نوع العلم بنفسه، بل يفوض أمره إلى الأستاذ، فإن
الأستاذ قد حصل له التجارب فى ذلك، فكان أعرف بما ينبغى لكل واحد وما يليق
بطبيعته.
وكان الشيخ الإمام الأجل الأستاذ برهان الحق والدين رحمه الله تعالى يقول:
كان طلبة العلم فى الزمان الأول يفوضون أمرهم فى التعلم إلى اساتذهم، وكانوا يصلون
إلى مقصودهم ومرادهم، والآن يختارون بأنفسهم، فلا يحصل مقصودهم من العلم والفقه.
“Jangan Memilih Ilmu Sendiri.
Hendaklah sang murid jangan menentukan pilihan sendiri terhadap ilmu yang akan
dipelajari. Hal itu dipersilahkan sang guru untuk menentukannya, karena dialah
yang telah berkali-kali melakukan percobaan serta dia pula yang mengetahui ilmu
yang sebaiknya diajarkan kepada seseorang dan sesuai dengan tabiatnya.
Syaikhul Imam Agung Ustadz Burhanul Haq Waddin ra. Berkata: “Para siswa dimasa
dahulu dengan suka rela menyerahkan sepenuhnya urusan-urusan belajar kepada
gurunya, ternyata mereka peroleh sukses apa yang di idamkan. Tetapi sekarang
pada menentukan pilihan sendiri, akhirnyapun gagal cita-citanya dan tidak bisa
mendapatkan ilmu dan faqih.”
وقيل: من طلب شيئا وجد وجد، ومن
قرع الباب ولج ولج. وقيل: بقدرما تتعنى تنال ما تتمنى.
Seperti yang dikatakan para
ahli hikmah :
“siapa
sungguh-sungguh dalam mencari sesuatu pastilah ketemu”
“Barang
siapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pasti dapat memasuki”
Dikatakan
lagi :
“Sejauhmana
usahamu, sekian pula tercapai cita-citamu”
فينبغى أن يتعب نفسه على التحصيل والجد والمواظبة بالتأمل فى فضائل العلم، فإن
العلم يبقى [ببقاء المعلومات] والمال يفنى، كما قال أمير المؤمنين على بن أبى طالب
كرم الله وجهه:
رضـينا قسمة الجـبار فينا لـنا علم وللأعـداء مال
فإن المال يفنى عن قريب وإن العلم يبقى لا يزال
والعلم النافع يحصل به حسن الذكر ويبقى ذلك بعد وفاته فغنه حياة أبدية.
“Usaha sekuat Tenaga.
Hendaklah para pelajar bersungguh-sungguh sampai terasa letih guna mencapai
kesuksesan, dan tak kenal berhenti, dan dengan cara menghayati keutamaan ilmu.
Ilmu itu kekal, sedang harta
adalah fana, seperti apa yang dikemukakan oleh “Amirul Mukminin Ali bin Abi
Thalib Kw :
“Kami rela, bagian Allah untuk kami
Ilmu untuk kami, harta buat musuh kami
Dalam waktu singkat, harta jadi musnah
Namun ilmu, abadi tak akan pernah sirna.”
Ilmu yang bermanfaat akan menjunjung tinggi nama seseorang, tetap harum namanya
walaupun ia sudah mati. Dan karena itu, ahli ilmu dikatakan selalu hidup abadi.
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ مِنْهُ ءَايَٰتٌ مُّحْكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٌ ۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَآءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِۦ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُ ۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar