إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟
مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum,
sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. {Qs. Ar-Ra’d
[13] : 11}
Secara gamblang.., kalo’ kita tidak mempelajari detail
makna ayat ini, maka kita akan mempunyai persepsi bahwa :
“Diri kita sendiri-lah yang mampu merubah keadaan kita ..!!!”
Contoh pemahamannya jadi seperti ini :
“kalau saya mengubah diri saya, maka saya pasti bisa
berubah !”
Kalo’ benar seperti itu..,
Lantas Allah Ta’ala sebagai pemegang murni ketentuan alam
semesta ini, kamu kemanakan.. ???
Seolah-olah usaha sendiri lebih dominan daripada ketentuan Allah
yang Maha Kuasa.
Dimana peran Allah-nya, kalau begitu ?!
Kita hanya mengubah diri sendiri aja, cukup !! Pasti
berhasil.
Allah sih ngikutin aja.. gitu maksudnya ?!!
Sedangkan disisi lain, ada Hadits Rasul Saw yang jelas
disabdakan disitu, bahwa :
“Sesungguhnya Tuhanku berkata kepadaku : Wahai Muhammad !,
Sesungguhnya Aku [Allah] kalau sudah menentukan sesuatu, maka tiada seorang pun
yang sanggup menolaknya”. (H. R. Muslim).
Dihadits ini jelas, bahwa Allah lah yang mendominasi
kehidupan ini, baik dunia maupun akhirat, menunjukkan kalo’ ketentuan-NYA yang
tak bisa diganggu gugat.
.
.
Ngaji terus.., ngaji lagi.., ngaji maning.. !!!
Jangan pernah berhenti Ngaji atau mencari dan
memperdalam ilmu agama islam, terlebih ilmu alQur’an dan
Hadits.
.. .. .. ..
Allah Tidak Mengubah Keadaan Suatu Kaum
Sampai Mereka…?
Pengetahuan Islam Dasar
SALAH SATU penggalan ayat yang paling aneh dan janggal buat
saya, adalah Qur’an Ar-Ra’d : 11, yang kerap diterjemahkan,
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum
sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. [13] : 11
Di ayat itu sangat janggal: usaha sendiri lebih dominan
daripada kehendak Dia yang Mahakuasa. Di mana peran Allahnya, kalau begitu?
Kita hanya mengubah diri sendiri saja, cukup. Pasti berhasil. Allah sih
ngikutin aja.
Di sisi lain, ada hadits riwayat muslim,
“Sesungguhnya Tuhanku berkata padaku: Wahai Muhammad!
Sesungguhnya Aku kalau sudah menentukan sesuatu maka tiada seorang pun yang
sanggup menolaknya”. (H. R. Muslim).
Di hadits ini, jelas ‘dominasi’ Dia. Keperkasaan Dia, Dia
yang tak bisa diganggu gugat. Kok, nggak klop?
Sampai suatu hari, saya dan teman-teman diajari membongkar ayat tersebut oleh
guru saya. Ayat aslinya adalah,
“Innallaha la yughayyiru ma bi qoumin, hatta yughayyiru ma
bi anfusihim.”
Terjemahan real-nya, bukan interpretatif, adalah:
“Sesungguhnya Allah tidak merubah ‘apa-apa/keadaan yang ada
pada suatu kaum’ (ma bi qoumin), hingga mereka mengubah
apa-apa/keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka (ma bi anfusihim).’
Itulah masalahnya. Terjemahannya. ‘Apa-apa yang ada/keadaan
yang ada pada jiwa-jiwa mereka’, diterjemahkan jadi ‘keadaan diri mereka
sendiri’.
Itulah sebabnya, pemahamannya jadi, ‘kalau saya
mengubah diri, maka saya bisa!’. Padahal artinya adalah, ‘Kalau
saya mengubah jiwa saya, maka Allah pun akan memperbaiki keadaan/kondisi saya’.
Nafs, adalah ‘jiwa’. Jamaknya, anfus. Jiwa-jiwa.
Apa itu ‘apa-apa yang ada pada jiwa’, atau ‘keadaan jiwa’
yang harus diubah, sehingga Allah berkenan mengangkat kita?
Apa-apa yang ada pada/bersama jiwa (bi anfus), adalah hawa
nafsu.
Keadaan jiwa, adalah jiwa yang masih dalam tingkat keadaan
‘jiwa yang mengajak pada keburukan’ (nafs ammarah bis su’) atau ‘jiwa yang
terombang ambing antara perbuatan dan penyesalan’ (nafs lawwamah), diangkat
naik menjadi jiwa yang tinggi, jiwa yang tenang (nafs mutma’innah).
Nah. Sejak itu, ayat itu jadi makes sense. Klop. Kalau kita
memperbaiki kondisi jiwa kita dan hawa nafsu kita, tentu saja Allah akan
memperbaiki kita sebagai insan. Pendeknya, kalau kita mau berubah, kita cukup
berurusan dengan hawa nafsu kita, dan Allah akan memperbaiki seluruh semesta
insan kita yang lainnya. Lahir dan batin. Just change your hawwa-nafs, and He
would take care of all others.
Eureka, deh. Malah semakin terlihat betapa Maha Pemurahnya
Allah pada hamba-hamba yang bertaubat, kan?
Terjemahan bahasa Inggris malah agak lebih pas: //”Indeed,
Allah will not change the condition of a people until they change what is in
themselves.”//
Nah. Change ‘what is in themselves’.
Jadi, sekali lagi, arti ayat itu bukan, ‘kita usaha, maka kita
bisa’. Makna yang ‘meleset’ ini biasanya cenderung dieksploitasi secara tidak
pada tempatnya, seperti untuk keuntungan-keuntungan jangka pendek. Tapi, maksud
ayat itu adalah ‘ubahlah kondisi jiwa kita (agar tidak lagi terbelenggu
hawa nafsu), maka Allah akan mengubah keadaan kita’.
-----------------------------